Showing posts with label Dari Hati ke Hati. Show all posts
Showing posts with label Dari Hati ke Hati. Show all posts

Friday, November 13, 2015

So,

So,
Never imagined before that there's someone who is still excited to listen to my stories day by day... Keep asking me how way your day, everyday.
Never imagined before that he also told me how his day, how exciting his life was and put his caring on our conversation.

And it happens everyday, since we know each other. We didn't meet yet.

He is smart. You know, smart person always steals my heart.
Handsomeness is relative.. :D
Our topic is wide enough, we never run out of idea.
But,
Still, I will never put any expectation on him. My fearness leaves a message to me.

"Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Ku harap kau tahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku slalu didekatmu"
Raisa - Jatuh Hati


Bogor, 21 Februari 2015. 12:56

It's All Beyond My Expectation

It's all beyond my expectation to finally know you with this way.
It's all beyond my expectation to know you as a kind and humble person.
It's all beyond my expectation to know you that you're as warm as a cup of coffee.

But,

I don't know whether you are still beyond my expectation or not... if you are not the answer of my prayers.

O Allah,
Let me meet my other half.
If he is far away, let him be close to me.
If he is close to me, let us unite.
If we are united, please guide us to Your Destiny.

February 16, 2015. 10.57

Monday, August 10, 2015

Got engaged!

Halo!

Seperti biasa, Dilla kalau posting pasti angin-anginan deh. Lama menghilang ngapain aja ya? Kok Dilla lama menghilang, kemana ya? *kayak ada yang nyariin aja gitu* :p


Jadi ceritanya, Dilla got engaged.

(hah???)


Hahahaha. Saya juga bingung mau mulai dari mana ceritanya.

Jadi, singkatnya begini. Bulan Februari kemarin, seorang teman baik ngenalin saya sama temannya, Aldis. Iseng-iseng aja sih, kata si teman: "kalau cocok lanjut, kalau enggak yaudah nambah teman.". Sebenarnya timing-nya gak tepat waktu itu, karena pas lagi jaman-jamannya saya nggak kepikiran sama sekali tuh buat kenalan sama laki dan di otak saya saat itu juga cuma pengen sekolah keluar negeri titik hehehe. Jadi saya nggak punya ekspektasi berlebihan pas kenalan.

Habis kenalan dan ngobrol-ngobrol lewat Whatsapp, hmmm anaknya kok seru ya buat ngobrol yang aneh-aneh, obrolan yang agak mikir buat ngejawabnya dan obrolan tentang point of view sesuatu. Lama-lama saya sadar, ternyata untuk ukuran dua orang yang baru kenalan *ciye*, saya dan Aldis teryata gak butuh waktu lama ya untuk mengenal masing-masing. Menurut saya saat itu Aldis juga anaknya humble dan enak banget diajak berkomunikasi - mungkin karena he has good knowledge kali ya. Sampe-sampe, saking nyamannya ngobrol sama Aldis, topik pembicaraan kami waktu baru kenal udah nyerempet-nyerempet ke pandangan hidup *ciye lagi*, visi berkeluarga dan bagaimana misi diri kita masing-masing untuk membangun keluarga itu. Berat yeee, obrolan kita berasa “sok tua” waktu itu. *ini geli sendiri nulisnya*

Tapi pada dasarnya saya emang nggak mau sembarangan kenal sama laki dan deket ama laki gitu lho sekarang. Semacam trauma kali ya, males kenalan sama orang baru terutama ngejalanin proses pendekatannya itu. Saya aja pernah bilang sama diri sendiri, pokoknya gak mau deket sampai nikah sama stranger, maunya sama yang sudah kenal deket alias teman sendiri! *garis keras* tapi saya sedikit menyesal bilang seperti itu karena seolah-olah sudah mendahului Allah. Karena kenyataannya sekarang, malah didekatkan sama stranger :p

Selain itu, saya juga sedang belajar tentang bagaimana mendefinisikan orang yang kita butuhkan, jangan sampai si laki sudah terlalu jauh berperasaan sama kita tapi ternyata belum bisa menjawab kebutuhan kita. Saya ingat betul Pak Bos di kantor pernah bilang, kita harus bisa definisikan kebutuhan kita walaupun kita gak tau kapan akan ditunjukkan jodohnya. Saya pun mengamini pernyataannya, ya, minimal kita bisa jelaskan yang bagaimana yang kita mau di dalam doa-doa kita supaya didekatkan dengan kebutuhan kita tersebut, insya Allah. Jadi kalau kenal orang baru yang nggak sesuai dengan yang kita butuhkan, mending gak usah dilanjutin deh daripada sakit hati.

Gak perlu lama-lama buat saya dan Aldis untuk memutuskan akan mengenal masing-masing lebih jauh. Tiga April, Aldis mengutarakan niatnya untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan Saya. Hmmm. Saya pun sempat shocked karena jarak antara kami kenalan sampai akhirnya memutuskan untuk serius deket banget. Ketemu juga belum sepulu kali. Udah gitu saya tinggal ke jalan-jalan juga 10 hari-an, lama kan? hehehe. Tapi pas Aldis bilang "Dil, aku mau serius.", saya langsung skimming review gitu tentang sosok Aldis. Apakah itu gerangan yang bikin saya bilang OK sama dia?

Adalah... Al tipe orang learning. Tipe orang yang kerap melakukan continous improvement, rajin kontemplasi, rajin muhasabah, apalagi yah... yah rajin introspeksi diri lah. Sementara saya? anaknya keras kepala, sok pinter, sok ideal, berasa paling bener sedunia dan gak bisa dibilangin sama orang yang gak saya panut. Pada dasarnya saya tipe orang learning juga sih *pembenaran*, tapi kekurangannya, banget, saya hanya learning untuk sesuatu yang saya benarkan. Huhuhu sedih ya. Sehingga saya butuh sosok learning yang bisa lihat sesuatu dari berbagai sudut pandang untuk bisa menyadarkan saya. Dan, Al berhasil melakukan itu sebelum saya suka beneran ama dia!

Udah gitu... Saya pernah ngobrol tentang bagaimana sih strategi mendidik anak-anak nantinya... supaya anak disiplin, rajin ibadah, dan sebagainya. Yah saya bilang aja kalo saya gak mau sembarangan, saya harus bisa perlakukan anak sesuai usia dan positioning sesuai usianya, bla bla bla.. Nah, saya pikir kan dia bakal ak uk ak uk hmmm doang tuh dengerin saya ngoceh tentang nanti mau gimana, bakal gak paham sama apa yang saya diskusikan. Eh ternyata... dia bahas tentang Bapak Durhaka. Panjang lebar Al ngejelasin tentang konsep Bapak Durhaka yang bakal dia hindarin banget. Intinya, Al gak mau jadi Bapak yang gak punya kontribusi apa-apa dalam mendidik anak nantinya. Siapa sih yang gak melting disuguhin sama pria berkonsep dan berprinsip kayak begitu? hahahahaha. Okay, you made it again, Al. Saya luluh beneran kali ini. Saya kalah.

See, saya nggak define dia dengan hanya bilang dia baik, perhatian, dan ngemong. Menurut saya itu aja nggak cukup sih. Yang kayak begitu udah kayak kacang goreng. Banyak! Dan.. atas dasar alasan di atas itu lah, saya memberanikan diri buat ngejalanin yang lebih serius sama Aldis. :)

Aldis bilang, kasih waktu enam bulan untuk dia bisa kenal saya lebih jauh dan melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi.

Tapi.


Ternyata...


Tujuh belas Mei, Aldis melamar saya. Di parkiran mobil Gedung Sasana Kriya, pas pernikahannya Dep sepupu saya.

Sungguh, ini super gerak cepat, dan gak ada romantis-romantisnya hahaha.

Saya pikir saat Aldis melamar saya, someday saya akan dibawa candle light dinner di sebuah restoran roof top di Jakarta sambil dikasih surprise bunga ala-ala – like he did beberapa minggu sebelumnya, ngirim bunga mawar segambreng ke kantor. :D

In fact, saya dilamar di parkiran mobil tanpa kata-kata sayang dan cinta di dalamnya. Tapi inilah yang tepat. Saya butuh komitmen. Untuk itu saya percayakan komitmen saya untuk Aldis.

Tiga belas Juni, Aldis mengutarakan niat baiknya untuk meminang saya kepada kedua orang tua saya. Alhamdulillah, orang tua saya menghargai niat baik Aldis serta rencana Aldis untuk datang membawa keluarganya untuk proses khitbah resmi pada tanggal 1 Agustus.

Dan.. Satu Agustus, we got engaged! Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan hikmad, walaupun sedikit ada kendala mati listrik di siang bolong, sehingga acara dimulai tanpa sound system - untung tamunya gak begitu banyak. Namun demikian, saya tetap bersyukur dengan plus minus yang ada. Alhamdulillah.


Sebelum saya selesaikan blog ini, ada beberapa nasihat Papa dan Papanya Aldis yang insya Allah akan selalu saya ingat dalam perjalanan saya menuju pernikahan, dan mungkin jadi bekal buat saya dan Aldis di kehidupan setelah pernikahan nanti (aamiin).

Marriage is about to build commitment, to communicate and to respect each other. – Papa Dilla to Aldis

There is no domination in marriage life. It’s all about team work. – Papa Dilla to Dilla

Shalat, doa dan sabar adalah senjata terampuh dalam menghadapi situasi apapun. – Papa Aldis to Aldis

Dari beberapa pilihan, pilihan terakhir yang terbaik. Pertahankan itu apapun tantangannya dan sama-sama solid. – Papa Aldis to Aldis

Well, mohon doanya ya teman-teman. Semoga seluruh persiapan kami lancar, semoga Allah membantu kami mewujudkan rencana pernikahan kami. Semoga Allah membukakan pintu kebaikan kepada kami sebanyak-banyaknya, insya Allah. Aamiin.

Okay, di postingan berikutnya saya akan memberikan review mengenai vendor yang kita ajak kerja bareng pas lamaran. Semoga bisa jadi ide atau referensi buat teman-teman semua ya.



Salam hangat,
Dilla

Wednesday, May 1, 2013

Menghitung Hari

Ini baru namanya bener-bener menghitung hari. Mau pisah sama temen-temen kantor aja rasanya galau kayak udah tau pacar sama jodoh beda orang.

Monday, August 2, 2010

Jangan Pernah Menuntut!

judulnya sok ngeguruin gak sih? semoga nggak ya :)
sudah lama saya ingin menumpahkan tulisan ini. dan seperti biasa, pengalaman pribadi. mungkin kejadian yang saya alami ini terlalu sederhana untuk diceritakan, atau mungkin terasa garing juga. tapi maknanya, bener-bener bikin menitikkan air mata.

bulan juni yang lalu, tiga orang anggota keluarga saya, baik keluarga deket maupun jauh berpulang ke Rahmatullah. yang pertama, oom. beliau meninggal karena stroke yang menyerang secara tiba-tiba, terus langsung anfal. yang kedua, tante. beliau meninggal karena sakit kanker nasopharing. yang ketiga, abang sepupu, beliau meninggal karena sakit liver.

kalo ngeliat kejadian-kejadian yang dialami sama keluarga yang ditinggalkan, betapa tak terhingga rasa syukur yang mestinya saya panjatkan sama Allah karena sampe dengan detik ini, mami, papa, kakak, dan adik masih utuh. sehat wal afiat. Alhamdulillah banget, karena si papa, sampe saat ini, di usianya yang 61 tahun, masih aja wara-wiri jakarta-prabumulih buat ngurus kerjaan dan proyeknya. Alhamdulillah mami di usianya yang 54 tahun masih aja line dance, masak, nyetir sendirian kemana-mana. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah...

nah. sederhana kan ceritanya? tapi coba kita serap maknanya. bersyukur sama hal mengenai kehidupan, nafas kita, tangan yang bergerak, mata yang melihat, orang-orang terdekat yang masih sehat dan semangat, serta nikmat hidup lainnya merupakan hal yang kadang kita lupain. kita sibuk sama urusan duniawi, sehingga lupa kalo saat ini kita kebanyakan minta.

dan, tau gak sih, karena saya menitikkan air mata mengingat hal ini, setiap saat saya ingin pulang, ketemu orang tua, kakak, adik, dimana materi tiba-tiba tidak dijadikan masalah...

:)

Wednesday, December 23, 2009

Selamat Hari Ibu

Selamat Hari Ibu :)

Kepada mamieku tercinta.
belum juga dua puluh empat jam yang lalu aku minta ditelepon.
kemudian aku berkata, "mie, masih inget mam punya anak di Bandung?"
kaya ngelabrak gak sih?? hehehehe..
tapi saya dan mamie sudah seperti teman.
saya bagi apa yang saya punya.
segalanya.
walaupun mamie tidak suka saya ceritakan tentang pacar saya, tapi dialah yang paling sering bertanya tentang pacar saya.
walaupun mamie tidak suka mendengar nilai anaknya yang pas-pasan, tapi mamie yang paling sering bertanya tentang nilai saya.
mamie,
sampai akhir hayatmu nanti, atau akhir hayatku nanti,
jangan lupa untuk tetap membuatkanku sambalado.
jangan lupa untuk meneleponku untuk marah ataupun menumpahkan isi hati.
jangan lupa untuk menjahitkanku gamis atau dress yang paling indah.
dan jangan bersedih dengan apa yang selama ini kita jalani.

23 desember 2009,
to my lovely mommy Erna Gusta Dharmawaty