Wednesday, April 3, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 6] Fujiko F. Fujio Museum and AOMORI!

Assalamu’alaykum warohmatullah!

Alhamdulillah, proses mencicil tulisan itinerary Jepang 2015 sudah menginjak hari keenam… mau nangis rasanya dikasih kesempatan untuk mengingat-ingat memori 4 tahun yang lalu, antara nangis senang, nangis kesal karena nggak mampu mengingatnya lagi, atau nangis bingung merangkai “puzzle” 4 tahun lalu, takut kalau jadinya nggak nyambung gimana? Hahahaha. Well, sejauh ini prosesnya masih lancar, walaupun sambil disambi pekerjaan kantor, membersamai anak, dan masak buat orang rumah. Tapi namanya udah janji sama diri sendiri untuk nulis ya harus ditepati dong. :D


Delapan belas Maret dua ribu lima belas.

Hari ini rencana kami adalah mampir ke Museum Fujiko F. Fujio dan dilanjutkan dengan jalan ke Sapporo melalui jalur darat, naik Shinkansen sampai Aomori kemudian lanjut naik Hamanasu Car hingga ke Sapporo.

Seperti biasa, kalau nggak kelaperan banget, kami memulai hari dengan sarapan onigiri yang kami beli di Family Mart dekat hostel. Hari ini kami check out dari hostel karena setelah dari Museum Fujiko F. Fujio kami akan berangkat ke Sapporo nanti malam. Namun, karena lusanya kami menginap di Tokyo lagi dan di hostel yang sama pula, kami meminta izin kepada host kami untuk menitipkan koper dan alhamdulillah diizinin. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk titip koper di stasiun besar. Biasanya titip koper atau sewa loker dikenai biaya 500-100 yen tergantung ukuran loker yang disewa lamanya penyewaan. Lumayan kan buat nambah-nambahin uang jajan di Sapporo nanti, hehehe. untuk ke Sapporo nanti, kami hanya membawa jaket tebal, syal, dan baju ganti seperlunya. Sedangkan untuk keperluan bermain ski, kita tidak perlu membawa baju dan peralatannya karena sudah disediakan oleh Takino Park di Sapporo, tempat kami akan bermain ski.

Untuk bisa menuju Fujiko F. Fujio Museum atau Doraemon Museum, kami jalan kaki menuju stasiun Asakusa untuk naik Tsukuba Express sampai stasiun Kitasenju, kemudian ganti kereta menuju stasiun Yoyogi Uehara, kemudian ganti kereta lagi naik Odakyu Line,turun di Mukogaoka-yuen dan lanjut naik bus menuju museum. Lumayan panjang, ya, ngeteng keretanya, tapi insya Allah tetap nyaman dan nggak ribet kok. Oh iya, untuk tiketnya sendiri sudah kami beli saat sampai di Tokyo kemarin. Kami membeli tiketnya di Lawson Tokyo, Lawson mana aja ada kok asal di Jepang, hehehe. Harga tiketnya 1000 yen dan dibagi berdasarkan schedule masuk museum. Schedule masuk museum bisa dicek disini, dan kami memilih untuk berkunjung pukul 12.00...

Bus menuju museumnya lucu banget, kyaaa jadi pengen balik lagi.






Kenapa sih kepengen ke Doraemon Museum? Ya kalau di jaman saya yang namanya Doraemon itu menemani setiap hari libur sekolah, ya. Siapa sih yang tahun 90an tiap minggu pagi pukul 08.00 nggak nongkrong di depan teve nungguin Doraemon? Hahahaha. Kelewatan nih yang nggak nonton Doraemon :D saking kuatnya ikatan batin saya dengan Doraemon ini, rasanya nggak afdol kalau ke Jepang nggak mampir ke museumnya untuk kulo nuwun dan bernostalgia~~

Alat untuk mendengarkan penjelasan kurator yang saya dan Unad kalungkan.

Di museum ini kita dikasih alat untuk mendengarkan penjelasan kurator museum dalam bahasa Inggris. karena setiap penjelasan museum ditulis dalam bahasa Jepang, jadi alat ini membantu banget dalam menikmati museum. Bagusnya lagi, pengunjung museum dilarang berfoto di dalam museum. Jadi insya Allah orisinalitasnya terjaga ya. Dan kita hanya foto-foto di luar museum aja. Bagusss juga~



The legendary Pintu Kemana Saja :)








Pulangnya kami menyempatkan diri jalan kaki di kawasan perumahan di sekitar museum.



Semacam abandoned park, meskipun berantakan tapi tidak ada sampah berceceran.

Setelah itu kami menuju stasiun untuk kembali ke Tokyo dan melanjutkan perjalanan ke Shin-Aomori menggunakan Shinkansen. Perjalanan Tokyo-Shin Aomori memakan waktu kurang lebih 3,5 jam. Sampai di Shin Aomori kita harus ganti kereta ke Aomori, karena naik Hamanasu Car-nya dari stasiun Aomori. Meskipun Hamanasu Car merupakan kereta milik JR, tapi tidak diberangkatkan melalui stasiun JR yang biasanya ada kata-kata "Shin"-nya.

Super excited pertama kali ngeliat salju :")
Hamanasu Car. Keretanya super jadul dan diesel. Tapi insya Allah tetap aman. Oh iya, keretanya lumayan berisik kayak kereta ke Jawa Tengah :D

Sapporo here we come!

Sekarang waktunya tidur untuk menyiapkan tenaga main ski besok!

Next: ngopi di Starbucks Sapporo, main ski di Takino Park.

Tuesday, April 2, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 5] Tsukiji Jogaii Market, Lake Kawaguchi, Kachikachiyama Ropeway and Fuji-san!

Assalamu'alaykum warohmatullah!

Tujuh belas Maret dua ribu lima belas.

Setelah bermalam di Tokyo, alhamdulillah mood yang semalam sedikit berantakan udah agak membaik. Hari ini itinerary kami adalah ke Tsukiji Jogaii Market dan Lake Kawaguchiko. Yes!!! Tsukiji Jogaii Market adalah pasar ikan terbesar di Jepang, dimana seperti pasa ikan pada umumnya, kehidupan disini dimulai dari dini hari. Tsukiji Market terkenal dengan fish auction-nya, yaitu lelang ikan-ikan segar terbaik di dunia dengan harga yang berani ditawar dengan fantastis. Kalau kita datang pukul 4 pagi mungkin kita bisa menyaksikan aktivitas lelang ikan tersebut, sayangnya kita datang sekitar pukul 7 pagi sehingga hanya bisa menikmati kudapan laut segar disini saja. Dari hostel kami jalan kaki dulu menuju stasiun Asakusa, kemudian naik Asakusa Line turun di Higashi Ginza dan jalan kaki sedikit saja. Sampai deh disini...

Kami sangat menikmati berada di Tsukiji Fish Market, apalagi kalau bukan makan seafood segar dengan bumbu sederhana khas Jepang, meleleh di mulut ~~~

Cuma dibakar gini doang aja enaknya masya Allah~~


Ikan tuna segede saya. Ya, saya!


Oyster fenomenal... Parah, enak banget!




Bapak penjual oyster, arigatou gozaimasu!




Mission accomplished!

Satu jam dirasa cukup untuk mengitari Tsukiji Jogaii Market. Selanjutnya kami akan bertolak ke Lake Kawaguchiko untuk ketemuan sama si cantik Fuji-san. Untuk menuju kesana kami menggunakan fasilitas JR Pass, yaitu naik JR Chuo Line dari Stasiun Shinjuku menuju ke Stasiun Otsuki, kemudian dilanjutkan dengan membeli tiket Fujikyu Line untuk ke Lake Kawaguchiko di Stasiun Otsuki (harganya sekitar 2,280 yen). Kenapa bela-belain naik Fujikyu Line yang rada mahal? Pertama karena keretanya punya desain yang oke punya, lucu-lucu banget karakter Fuji-san yang dilukiskan di kereta Fujikyu ini! Kedua karena keretanya punya jendela yang besar-besar sekali, sehingga memang cocok untuk dijadikan kendaraan sightseeing... dan benar saja, sewaktu kami menaiki kereta ini menuju Lake Kawaguchiko, terjadi kehebohan setiap para turis melihat pemandangan Fuji-san yang sangat cantik itu... semua yang ada di kereta berteriak "whoaaah" berkali-kali saking takjubnya. Saya bisa katakan ini adalah sensasi eyegasm yang luar biasa. Fuji-san benar-benar secantik itu! Memang saat kami kesana, cuaca di sekitar Fuji-san sedang cerah-cerahnya, tidak ada kabut yang menutupi Fuji-san sama sekali, sehingga kami dapat menikmati pemandangan Fuji-san dari sudut manapun. Masya Allah. Huhuhu jadi kepingin balik lagi :D Insya Allah.

JR Chuo Limited Express~~~

Interior di dalam JR Chuo Limited Express. Kece!

Kursinya bisa dibalik, mengingatkanku pada kereta Taksaka :D

Fujikyu Line~~ Lucu banget parah!

Pemandangan Fuji-san dari dalam Fujikyu Line.
That moment ketika sekereta bilang : "Whoaaaa!" pas ngeliat Fuji-san.

Sesampainya di Lake Kawaguchiko waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, perut pun sudah mulai keroncongan, jadi kami mampir dulu ke Seven Eleven untuk membeli beberapa potong onigiri sebagai kudapan kami siang ini. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di pinggir Lake Kawaguchiko hingga tiba di salah satu tujuan wisata kami di Lake Kawaguchiko: Kachikachiyama Ropeway!


Turun dari Fujikyu Line aja pemandangannya kaya gini, masya Allah :")

Ohayou gozaimasu, Lake Kawaguchi!

No filter needed, alhamdulillah cuaca lagi bagus banget!

Jadi Kachikachiyama Ropeway ini merupakan Ropeway sepanjang 400 meter yang menghubungkan Lake Kawaguchiko dan Observation Deck di dekat puncak Tenjoyama, tempat yang memiliki ketinggian 1.075 mdpl dimana kita bisa menikmati view Lake Kawaguchiko dan Fuji-san 360 derajat. Kami memilih round trip untuk naik Kachikachiyama Ropeway menuju Observation Deck (males hiking hehehe), kalau mau hiking juga bisa saja, bisa trail hiking sejauh 300 meter dengan elevasi yang lumayan bikin paha pedas kalau nggak terbiasa :D Tapi itu semua insya Allah terbayar kok sesampainya di Observation Deck. Beneraaan disini kalian bisa puas-puasin mata memandangi Fuji-san yang masya Allah cantiknya... saking speechless-nya, saya akan menjelaskan keindahannya melalui foto…













Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saatnya untuk pulang ke Tokyo. Sedih sekali rasanya untuk meninggalkan Fuji-san yang sangaaaaat cantik. Tapi apa mau dikata, itinerary lain telah menunggu untuk dijalankan. Sayonara Fuji-san, semoga Allah kasih kesempatan ke kita buat ketemu kamu lagi, ya. Beneran sedih banget.
















Baik, kami pulang ke Tokyo menggunakan rute yang sama, namun saat naik JR Chuo Line, kami turun di Stasiun Shinjuku karena akan mencicip sebuah restoran ramen halal rekomendasi Mira, teman kuliah saya yang juga tukang ngebolang, Kaijin Ramen. Kami sampai di Stasiun Shinjuku pukul 7 malam dan segera bergegas ke Kaijin Ramen yang ternyata… antre paraaaah. Ah, padahal kami sudah sangat lapar. Tapi tak apalah, kami tunggu saja. kami baru ingat kalau waktu makan orang Jepang tidak selama orang Indonesia. :D

Ternyata benar saja. Kami hanya perlu antre 30 menit untuk bisa dapat seat disini. Padahal antrean restoran ini mengular sampai ke tangga dan lantai dasar gedungnya, lho. Ditambah restorannya terletak di lantai 2 sebuah ruko kecil di sekitar pusat perbelanjaan Shinjuku, sempit? Sudah pasti. Tapi Alhamdulillah ini Jepang, bebas semrawut dan menjunjung tinggi asas antre dengan tertib. Hehehe. 

Kenapa, sih, Kaijin Ramen atau Menya Kaijin ini halal? Jadi kuah ramen Kaijin ini memang unik, maksudnya ya jarang aja sih ketemu ramen kayak begini hahaha, mereka menggunakan kaldu seafood sebagai bahan dasar kuah ramennya. Jadi insya Allah udah terpercaya, deh (selain karena udah halal certified juga, sih, hehehe). Ingat, ya, daging sapi non halal di luar negeri bukan saja karena pisaunya yang mungkin bercampur dengan hewan non halal seperti babi, tetapi juga karena cara sembelihnya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Saya memesan Spicy Seafood Based Ramen lengkap dengan rice cake seharga 1030 yen. Rasanya? Light tapi seger banget! Style ramennya memang berbeda dengan Hakata Ramen yang ada di Jakarta, yang mana Hakata Ramen itu kuahnya kental sekali. Sementara Kaijin Ramen ini ringannya seperti makan Indomie rasa ayam bawang tapi tentunya dengan rasa yang lebih khas. Nikmaaat. Oh iya, kalau kamu berhasil menghabiskan ramennya, kamu bisa mendapatkan kuah tambahan gratis! Cocok buat backpacker!

Itadakimasu~~~

Ngga ngerti apaan tapi ngeliat gambarnya lucu aja :))))

Perut kenyang hati senang bukan kepalang. Kami keluar dari Menya Kaijin diiringi dengan senyuman riang para juru masak disana. Kami pulang ke hostel dengan langkah kaki bahagia diiringi band jalanan keren yang kami temui di jalanan menuju stasiun Shinjuku, The Throtles. Tak lupa kami sisihkan sebagian uang jajan kami untuk mereka dan berfoto bersama sebelum meninggalkan mereka. Alhamdulillah, hari ini isinya cerita bahagia semua. 




Fin! Next: Museum Doraemon dan perjalanan menuju Sapporo!

Tuesday, March 26, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 4] Last Day in Kyoto; Fushimi Inari Shrine, Shinkansen and Rush Tokyo

Assalamu’alaykum warohmatullah...

Enam belas Maret dua ribu lima belas.
Hari ini, yang merupakan hari terakhir kami di Kyoto, merupakan waktunya kami mengunjungi Fushimi Inari Shrine. Selain sarat nilai budaya Jepang yang sangat kental, susunan Torii di sepanjang kuil ini begitu sedap untuk dipandang dan diabadikan. Sebenarnya mengunjungi Fushimi Inari Shrine bukan itinerary utama kami alias opsional, tetapi mumpung lagi di Kyoto dan masih punya tenaga lebih, saya dan Unad menyempatkan untuk mampir ke kuil tersebut sementara para lelaki memilih untuk stay di hotel sampai dengan keberangkatan ke Tokyo nanti siang.

Sekitar pukul delapan kami berangkat dari hostel. Fushimi Inari Shrine tidak jauh dari tempat kami menginap, Khaosan Kyoto Guesthouse, hanya berjarak 5 stasiun saja bila ditempuh dengan kereta. Untuk mencapai Fushimi Inari Shrine, kami memilih naik Keihan Main Line yang sudah termasuk ke dalam coverage Kansai Thru Pass yang kami beli saat landing di Osaka.

Mendung... pake kamera iPhone...


Mandatory wefie dulu sama Unad kesayangan :DD
















Pukul dua belas kami sudah tiba kembali di hotel untuk check out dan menuju Stasiun Kyoto untuk naik Shinkansen menuju Tokyo.

Naik Shinkansen. Repeat, naik Shinkansen.

Yeay akhirnya nyobain naik Shinkansen!!! *norak*

Tiba di Stasiun Kyoto, kami langsung antre tukar JR Pass di JR Tourism Center sekaligus book seat Hamanasu Sleeping Car untuk ke Sapporo nanti, Masya Allah, stasiun Kyoto ini bagus sekali… juga ramai tapi nggak semrawut.




Hari ini kami cukup santai… pace kami tidak secepat kemarin…
Kami sampai di Stasiun Tokyo sudah petang dan disambut dengan hujan yang cukup deras.
Sejujurnya kami agak kaget begitu tiba di Tokyo. Gila, ritme penduduknya cepat sekali! sangat jauh berbeda dengan ritme penduduk di Osaka dan Kyoto yang cenderung santai… jalan juga nggak seradak seruduk… jujur saja hal ini sempat membuat saya “ilfil” dengan Tokyo. Tapi ya sebenarnya inilah potret negara Jepang yang kita kenal di luar sana, jadi kita nikmati sajalah…

Rencana kami untuk sightseeing di Asakusa jadi gagal karena hujan belum berhenti juga hingga malam hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar hotel, kebetulan ada Yoshinoya dan kami langsung melipir (jujur, waktu itu kami belum tahu kalau Yoshinoya Jepang tidak halal, maafkan ya Allah). Oh iya, selama di Tokyo kami menginap di Khaosan World Asakusa Hostel yang masih rekanan dengan tempat menginap kami di Kyoto. Namun sejujurnya kami lebih suka dengan vibe hostel kami yang di Kyoto karena lebih bersih walaupun common room-nya lebih kecil.

Maafin Ya Allah, nggak tau kalau ini tuh nggak halal :")





Kami menutup hari ini dengan check in di hostel, selonjoran, dan beristirahat. Tiba-tiba pukul 9 malam Welly Whatsapp saya, "Dil, laper, nggak? Belanja yuk, terus kita masak deh di common room.", wah saya yang masih merasa lapar langsung mengiyakan dong, sementara Unad yang udah kecapekan memilih untuk tidur. Hehehe. Saya langsung ngeloyor keluar pakai piyama dan jilbab instan sama Welly, Aboy, dan Aray untuk belanja di supermarket di sekitar Asakusa. Kami berbelanja di supermarket yang buka 24 jam yang ternyata masih ramai aja disini... dan adalah hal yang umum disini untuk belanja tengah malam karena harga produknya jadi lebih murah. Iya, se-fresh itu sayur, buah, ikan-ikanan, dan daging-dagingan yang dijual di Jepang hingga bela-belain diskon di tengah malam dan besoknya udah ganti produk lagi. The best!

Pajamas Style pas belanja ke supermarket...

Belanjaan kita-kita!

Balik dari supermarket kami langsung masak (((semangat 45 banget karena ternyata masih lapaaarrr))) di common room hostel yang kebetulan lagi sepi. Seru banget ternyata main masak-masakan sama pria-pria ini :D main masak-masakan ini semacam self healing untuk saya pribadi karena sejujurnya hari ini lumayan kecewa dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasi.

Kami masak apa saja? Masak nasi, yes kita beli Japonica Rice yang murah dan enaaak banget. Terus masak telur setengah matang. Entah kenapa saya merasa telur di Jepang ini kok bagus-bagus ya, kualitas paten lah. Padahal bukan telur ayam kampung, tapi terasa sangat fresh dan kuning telurnya itu, lho... beda deh, sulit dijelaskan :D. kemudian kami beli fresh sashimi 500 gram harganya sekitar 500 yen an atau 60 ribu... murah banget kan? Kemudian beli unagi dan cumi bumbu teriyaki yang ternyata isinya nasi, jyah ketipu... kirain isinya cumi juga, hehehe. Tapi tetap enak rasanya.


Yang di sebelah kiri dan kanan itu cumi teriyaki isi nasi :D

Oishiii...

Jyaaah kena tipu dia :))))

Pukul 1 malam saya pamit masuk kamar. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak karena perut kenyang. Saatnya beristirahat mempersiapkan tenaga buat ke Lake Kawaguchiko!

Wassalamu'alaykum warohmatullah!