Friday, November 18, 2016

Papa Berkata

Kira-kira seperti ini momen sederhana yang sangat menyentuh saat Papa memberikan ucapan selamat kepada saya saat baru lahiran kemarin. Papa memang tidak ada di hari kelahiran Zaid karena sedang ada dinas ke luar kota, jadi baru ketemu saya sekitar 5 hari setelah melahirkan.

Papa: gimana Dil rasanya jadi Ibu?

Dilla: ya gitu deh Pa.. Berat juga yak hahahaa *kebiasaan mengalihkan dgn ketawa, biar gak keliatan galau hahahaa

Papa: ya.. Itulah namanya takdir, jadi seorang Ibu.. Yg memang begini prosesnya..

Kemudian saya masuk kamar ceurik cirambaaaay... Merasa bahwa tugas saya sekarang sangat berat.. Hehehe. Entahlah. Gak tahu kenapa di bagian kata TAKDIR begitu nyata bebannya.

Alhamdulillah habis itu ditenangin sama Mas Aldis "Allah gak akan kasih anak kalau kita belum siap.. So, insyaa Allah ya Nduk.."

Bismillahirrahmaanirrahim.

Cheers,
Dilla, Aldis, Zaid

Welcome to the world, Baby Zaid

Alhamdulillah, telah lahir pelengkap keluarga kami Zaid Affan Ramadhan pada tanggal 24 October 2014 pukul 20.13.. Mohon doanya semoga Zaid kelak tumbuh menjadi anak yang soleh, sehat wal afiat, serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Aamiin yarobbal alaamiin.

Zaid lahir melalui proses sectio caesaria yang sangat tenang dan disadari oleh kedua orang tuanya. Insyaa Allah tidak ada trauma birth di antara kami bertiga. :)

So, selamat berlahir untuk kita bertiga, ya. Aku menjadi seorang Ibu, Mas Aldis menjadi seorang Bapak, dan Zaid hadir di antara kami..

Selamat datang di dunia parenting ya Mas Aldis.. Bismillah.. Jadikan aku sosok madrasah pertama yang baik untuk anakku, ya Allah. Jadikan Mas Aldis imam yang mampu menuntun kami menuju surgaMu, ya Allah. Aamiin.

Cheers,
Dilla, Aldis, Zaid

Sunday, September 4, 2016

Buku Gentle Birth Balance oleh Yesie Aprilia


Catatan: bukan endorsement, murni review. :)

Belakangan ini, banyak artikel di Internet yang menggadang-gadangkan Gentle Birth dan Hypnobirthing sebagai metode melahirkan yang sedang “in”. bagaimana tidak, sejumlah artis ibu kota seperti beramai-ramai menggunakan metode ini untuk menyambut tamu agung – anak – lahir ke dunia, seperti yang ditunjukkan oleh akun Instagramnya, di antaranya Ayudia Bing Slamet, Dewi Dee Lestari, dan lain sebagainya. Namun, apakah iya bahwa Gentle Birth dan Hypnobirth merupakan metode “in” yang modern? Nampaknya kita perlu telaah lebih dalam lagi ya filosofi ini kepada ahlinya supaya tidak salah kaprah dan salah pengertian akan ke”in”an nya ((halah)).

Adalah Kak Yesie Aprilia, seorang bidan yang saya ketahui dari hasil browsing-browsing di Internet ketika saya akan membeli buku seputar kehamilan saat usia kehamilan saya menginjak 16 minggu *telat bangeeet*. Saat itu saya hanya butuh buku yang berisi informasi lengkap seputar kehamilan dan persalinan tanpa memikirkan filosofi lainnya. Wis yang penting anakku sehat wal afiat dan saya bisa memberikan apapun yang terbaik untuk kehamilan ini.
Mutar muter nyari buku, akhirnya perhatian saya tertuju pada buku Gentle Birth Balance karya Kak Yesie Aprilia dan Hypnobirthing karya Ibu Lanny Kuswandi. 

Saya menemukan nama-nama itu melalui ketidaksengajaan karena pada dasarnya hanya ingin membandingkan buku mengenai Gentle Birth Balance dan Hypnobirthing melalui hasil review pembaca di internet. Setelah browsing dan lihat akun Instagramnya, saya berpikir, oh Kak Yesie dan Ibu Lanny Kuswandi ini sebenarnya sama-sama praktisi Hypnobirthing dan penggiat kelahiran yang minim rasa sakit. Timbullah kebingungan ala ala wanita.. yang mana nih yang harus dibeli ((galau mode: on))? Namanya juga cewek belanja, ada aja kegalauan di menit-menit terakhir mau pilih yang mana. Yasudahlah, karena bukunya Kak Yesie lebih tebal dan ada ilustrasi Yoga-nya, akhirnya saya putuskan untuk beli bukunya Kak Yesie… aneh banget ye milih buku dari tebal atau tipisnya, ada ilustrasinya atau tidak. hahahaha.

sampul bukunya. foto diambil dari www.bukalapak.com

Sesampainya di rumah, saya yang penasaran banget dengan buku ini langsung buka plastiknya dan membacanya mulai dari halaman Untuk Pembaca. Ini halaman awal-awal banget lho, tapi dari membaca halaman-halaman awal ini saya jadi punya kesan bahwa Kak Yesie berusaha agar pembaca memiliki persepsi yang sama dengannya sebelum mulai menyelami buku ini. Di awal saja, saya sudah diberi suguhan kalimat yang seakan-akan membuat saya terbangun dari tidur panjang (ealaaah lebay) dan disadarkan bahwa lahir, hamil, melahirkan, menyusui, dan pengasuhan adalah sebuah siklus alami yang disesain sempurna dan ajaib oleh Sang Pencipta

Anda adalah wanita
Wanita itu kuat
Wanita diciptakan untuk melahirkan normal alami
Anda adalah ahlinya
Dan anda mampu dan berhak merasakan indahnya melahirkan buah hati anda.
Mari berdayakan diri!

Kembali ke judul buku: Gentle Birth Balance.
Apa sih pengertian Gentle Birth?
Gentle Birth adalah proses persalinan yang menuntut kita untuk kembali merunduk ke alam, memercayai kekuatan tubuh yang memang didesain untuk melakukan "tugasnya", yaitu melahirkan keturunan (Gentle Birth Balance, halaman xx).
Menurut www.bidankita.com, website yang juga diasuh oleh Kak Yesie, Gentle Birth adalah metode persalinan yang tenang, penuh kelembutan dan memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh seorang manusia. Penolong dan pendamping harus membantu dengan tenang dan suara yang lembut, sehingga pada saat bayi lahir, suasana di sekelilingnya tenang, hening, dan penuh kedamaian. Proses persalinan yang tenang, lembut, santun dan minum trauma ini bukanlah sebuah Standard Operating Procedure (SOP) atau seperangkat aturan yang harus diikuti. Sebaliknya, itu adalah sebuah pendekatan dalam proses kelahiran alami yang menggabungkan nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh wanita itu sendiri.
Bagi seorang ibu yang hendak melahirkan secara Gentle Birth, dia perlu merasa benar-benar aman, tidak hanya secara fisik, tetapi secara emosional dan spiritual. Dukungan dari orang terdekat dan orang yang mencintainya sangatlah penting. Dia membutuhkan cinta dari semua orang, dan kesabaran dan pengetahuan bahwa mereka memiliki iman dan keyakinan bahwa tubuhnya mempunyai pengetahuan yang sempurna untuk melahirkan bayinya (www.bidankita.com).

Apa yang harus dipersiapkan calon ibu untuk mencapai sebuah pengalaman Gentle Birth?
Gentle Birth membutuhkan persiapan sejak masa kehamilan. Baik persiapan fisik maupun mental calon ibu. Persiapan fisik meliputi latihan pernapasan, olahraga ringan, pijat, dan konsumsi makanan sehat. Mental ibu pun perlu disiapkan dengan rutin melakukan relaksasi hypno-birthing, meditasi, afirmasi positif, dan menjaga ketenangan jiwanya. Persiapan mental ibu menjadi hal penting yang akan memengaruhi kesuksesan Gentle Birth ini (www.bidankita.com). Saking pentingnya persiapan ini, jargon sakti milik Gentle Birth adalah KNOWLEDGE IS POWER. Yes, pengetahuan yang luas adalah kunci mempersiapkan keberhasilan Gentle Birth.

Kunci agar sukses Gentle Birth menurut buku Gentle Birth Balance:
High Knowledge
Mindfulness & Awareness
Healing Birth Trauma
Breathe
Relax Mind
Mind, baby and body balance
Mobility and gravity during labor
Gentle Birth Provider & Support

Jujur saja, sebelum-sebelumnya saya hanya mempunyai pemikiran “yang penting dengerin dokter, melahirkan pervaginam atau section caesaria itu bagaimana hasil akhir periksa dengan dokter saja” maksudnya si Ibu nggak perlu punya effort lain selain makan makanan yang sehat, minum vitamin, serta olah raga kecil "sekuatnya" saja - karena awalnya saya tuh nyama-nyamain ibu hamil sama orang sakit, jadi banyak yang musti dibatasi dari ibu hamil. Lah yo salah ya ternyata. :))))

Nah, saya jadi mikir. Bila melahirkan secara pervaginam adalah proses yang alami, maka seharusnya proses alami tersebut bisa kita usahakan, dong, bukan proses yang instan "oke, pervaginam!" atau "oke, sectio caesarian!". Memang sih banyak "katanya katanya" dari teman-teman dan orang tua yang dapat membantu upaya agar melahirkan pervaginam, seperti contohnya "ngepel jongkok" dan "senam hamil latihan nafas huh hah huh hah", namun ternyata banyak sekali usaha fisik maupun mental lainnya yang harus kita lakukan, di luar inputan dari dokter kandungan yang kita pilih, untuk menuju kehamilan dan persalinan pervaginam.

Saya juga sadar, sih, zaman dulu kalau lahiran nggak perlu ke dokter. Cukup bidan atau dukun beranak. Bahkan ada yang lahirannya di tepi sawah sehabis mencangkul tapi masih sehat wal afiat setelah melahirkan, tanpa bius atau obat tambahan apapun, besoknya mungkin sudah kuat mencangkul lagi :D

Saat memahami filosofi Gentle Birth, saya merasa seperti sedang "cuci otak", sepertinya kepasrahan saya akan proses kelahiran nanti itu SALAH BANGET. Faktanya, calon ibu punya banyak PR untuk menghadapi kehamilan dan persalinan yang gentle.
Fasilitator Kesehatan dan Tenaga Kesehatan yang pro-normal saja tidak cukup untuk mendukung Gentle Birth.
Ngepel jongkok dan senam hamil huh hah huh hah apalagi, nggak cukup memberdayakan calon ibu yang mau lahiran pervaginam dengan gentle.
Orang ngomong "ih lahiran mah udah pasti sakit keles!" itu tidak selamanya benar, setidaknya bila kita sudah tau ilmunya ya.. Kalau nggak tahu ilmunya ya akan merasakan sakit luar biasa. FYI, ternyata ilmunya juga ilmu kedokteran lho, bukan ilmu abal-abal apalagi mejik. :)

Saya baru baca buku ini sampai halaman seratus sekian *dasar pemalas yee, tapi emang bukunya tebal dan besar*. Tapi saya sepemikiran dengan Kak Yesie dan konsep Gentle Birth Balance-nya. Berbagai anjuran pola hidup sehat, gizi yang harus dipenuhi di setiap trimesternya, dan masukan lainnya dari buku langsung saya praktekkan sebagai wujud pemberdayaan diri dalam menjalani kehamilan yang sadar (high knowledge, high awareness).

Keingintahuan saya akan filosofi ini semakin lama semakin kuat, saya jadi makin penasaran: bagaimana sih cara kerja hormon yang menurut buku dapat membuat persalinan menjadi nggak sakit? Apakah cukup dengan hipnotis diri sendiri? Saking penasarannya, saya berencana ikutan Gentle Birth Balance Private Class yang diselenggarakan oleh Kak Yesie akhir bulan Juli 2016 lalu. Saya langsung ajukan proposal ke suami. Suami saya sempat mikir beberapa kali karena lokasinya yang jauh dari Depok dan beberapa kepentingan lainnya, tapi setelah beliau saya cekokin filosofi yang luar biasa ini dan juga mendengar pengalaman dari teman-temannya yang pernah ikutan ikutan kelas Hypnobirthing, akhirnya suami saya ikhlas ridho ikutan Private Class-nya Kak Yesie. Yeay!

Banyak paradigma baru yang kami dapatkan setelah mengikuti kelas ini, yang semoga, kalau niat, akan saya bahas di postingan selanjutnya ya. Hehehehe.

Jadi, apakah tepat bahwa Gentle Birth adalah metode melahirkan "in" yang modern - seperti yang dikatakan pada artikel-artikel di internet?


Cheers,
KODIL

Saturday, September 3, 2016

Dilla Went to Malay – Thai 2014: Last Day: “Elep” a la Bangkok


Emang kayak apa sih ELF ala Bangkok?
*catatan: kalau saya bilang Elep atau ELF itu berarti mobil travel ya, kalau di Bandung suka disebut ELF sih :))))

Minibus in Bangkok
Tampilan ELF di Bangkok (tapi ini bukan ELF yang saya tumpangi, lho)

Sumber foto: hwww.magictravelblog.com

Well, sebenarnya sih nggak sejelek yang kami atau kamu bayangkan kok. Tapi yang jadi masalah itu sebenernya attitude driver-nya yang nggak sekolah banget.

Jadi ceritanya, sepulang dari MBK Center kami sudah membeli tiket travel bandara seharga 200 baht atau delapan puluh ribu rupiah. Fiks banget kami sudah dapat seat, karena informasi dari travel agent, kalau tidak ada seat untuk esok hari pasti kami tidak akan bisa beli tiket. Jadi beli tiketnya based on seat yang tersedia (duh maaf ya bahasa saya campur aduk begini). Penjelasan saya ini akan nyambung ke kejadian driver travel yang nggak sekolah tadi.

Keesokan harinya, kami check out pukul setengah delapan pagi untuk naik travel pukul delapan. Pesawat kami memang baru take off pukul setengah satu siang, tapi daripada daripada kenapa kenapa di negara orang, yo nggak lucu banget kan. :))))

Sesampainya saya di travel agent tadi, kami naik travel sesuai keberangkatan kami, Alhamdulillah langsung loading tas dan duduk cantik di dalam travel. tahu tidak? Ternyata travelnya overload! Jumlah orang yang membayar travel lebih banyak dari jumlah seat yang tersedia. Ada dua orang bule yang juga sudah membayar tetapi tidak kebagian seat sementara seat travel sudah full. Jelas bule-bule itu pada protes dan gak mau berkorban untuk naik armada setelahnya, wong sudah bayar seat kok.

Sebenarnya sih seharusnya pihak travel menyediakan armada tambahan kalau sudah tau overload. Tapi kenyataannya tidak, malah kondisi ini diperparah dengan kata-kata pak driver yang bilang “ya udah, deh, ada yang ngalah, ayo dong ada yang turun supaya bule ini bisa naik!” ya kali, pak, kita-kita mau pada turun. Semua penumpang disini sudah bayar, jadi punya hak yang sama yaitu naik travel sesuai dengan jam yang disepakati.

Akhirnya setelah berdebat panjang, tidak ada yang mau ngalah pula, dua bule tadi naik travel yang sama dengan kami ((empel-empelan kayak sarden)). Untungnya ada bule lain yang berbaik hati mau duduk empel-empelan sama dua bule tadi. Yaaa kadang ya, orang barat toleransinya mendadak naik pesat kalau lagi liburan ke Asia. Hehehe. Sempat mengobrol sama dua bule tadi, yang adalah orang Belanda, ternyata mengejar penerbangan ke Chiang Mai pukul setengah sebelas pagi ini. Ya ampuuun pantesan aja ngotot banget mau naik travel saat itu juga, dianya juga mepet gila berangkat ke bandaranya.

Bul, jangan samakan Thailand dan negaramu ya yang mungkin aja nih transportasinya lebih tertib dan manusiawi. Hehehe. pesan moral ini perlu dicatat sama bule-bule yang mau jalan-jalan ke negara Asia Tenggara ((subjektif)).


Cheers,
KODILZ

Dilla Went to Malay – Thai 2014: Ancient Thailand called Ayutthaya, Day 3


"Masih terngiang di telingaku…"

eh itu mah lagunya Ike Nurjanah deh. Ketahuan banget ya waktu kecil ikutan dengerin simbak dangdutan. HEHEHEHE.

Iya, masih terngiang bagaimana perjalanan kami menuju ke Ayutthaya dimulai. Kebalikan hari sebelumnya, hari itu Bangkok terasa panas dan berudara lembab – inilah cuaca Bangkok yang sebenarnya, mirip sekali dengan Jakarta tapi sedikit lebih “judes”. Pukul delapan pagi kami keluar dari hotel menuju Stasiun Hualampong menggunakan taksi – ya, taksi. Lupa-lupa ingat juga alasan kami naik taksi apa secara judul perjalanan kami kan “backpacking ceria”, mungkin waktu itu kami mau menghemat waktu (karena bus kota di Bangkok tak ubahnya di Jakarta, bobrok dan gak ada jadwalnya)? Atau gak mau kepanasan? Entahlah, yang pasti kami memutuskan untuk naik taksi ke stasiun.

Sampai di stasiun, kami langsung menuju ke loket pembelian tiket. Loket di stasiun Hualampong – yang merupakan stasiun terbesar di Bangkok – ternyata seperti loket tiket di Indonesia zamannya masih ada kereta ekonomi, belum terkomputerisasi. Tiket masih menggunakan kertas yang nantinya akan diceklek (pakai pembolong kertas, persis dengan di Indonesia dulu) sama petugas kereta api on duty. Okay, plus one untuk Indonesia yang masih lebih canggih ya. :)

Kami membeli tiket kelas 3 seharga 15 baht atau kalau dirupiahkan seharga enam ribu rupiah. MURAH BANGET untuk ukuran kereta antar kota antar provinsi. Menurut Google Maps, jarak Stasiun Hualampong – Stasiun Ayutthaya adalah 81 km, sekitar dua pertiga perjalanan Jakarta – Bandung yang kalau ditempuh naik kereta ekonomi butuh merogoh kocek tiga puluh ribuan rupiah! Wow. Murah.. ya, murah. eh tapi gak mau seneng dulu deh. Please, jangan seneng dulu. Kita harus lihat bagaimana kondisi kereta kelas tiganya Thailand. Hehehe.

Informasi jadwal keberangkatan kereta melalui pengeras suara di Stasiun Hualampong disampaikan menggunakan dua Bahasa, yaitu Bahasa Thailand dan Bahasa Inggris. Kami cukup terbantu dengan hal ini mengingat Bahasa Thailand kok yo seperti bahasa planet, bener-bener gak ada kata serapannya. Kami langsung menuju peron yang dimaksud. Dan. Tahukah kamu seperti apa keretanya? Yes, keretanya persis dengan kereta ekonomi di Indonesia, gak ada bedanya. Malah pandangan subjektifku bilang ini kereta lebih kumuh dari kereta ekonomi Indonesia karena kucel banget seperti nggak pernah dibersihkan. Jadi wajar aja deh kalau kita hanya bayar segitu untuk dapat kereta dengan fasilitas yang segitu-gitunya juga. Terlepas dari fasilitasnya yang seadanya, kami bahagia-bahagia aja karena Thailand menyediakan fasilitas transportasi yang “backpacker friendly”.

Ada sebuah kejadian yang bikin kami terkaget-kaget (banget). jadi ceritanya, ini kereta jalannya pelaaan banget. kayaknya hanya 30-40 km/jam deh, sehingga kemungkinan waktu tempuh Bangkok – Ayutthata menjadi 2 jam yang semula munurut Google Maps adalah 90 menit ( ditambah jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Hualampong pun terlambat setengah jam). Tiba-tiba, kereta berhenti di tengah-tengah perjalananan dan bukan berhenti di stasiun. Berhentinya cukup lama. Terus kami disuruh pindah kereta sama petugas kereta api, yang kami pun nggak tahu alasan pindah keretanya kenapa karena saat itu doi menjelaskannya dengan Bahasa Bangkok (aku ra mudeng, suer).
Kami dan para penumpang yang notabene rata-rata turis mancanegara turun aja gitu dengan langkah gontai setelah itu nangkring di pinggir rel kereta api sambil panas-panasan, duh. Untungnya, beberapa menit kemudian, nestapa kami di pinggir kereta api terobati dengan kedatangan kereta pengganti yang, kayaknya sih, kelasnya naik dari yang awalnya kami tumpangi. Punya feeling kalau kami memang nggak punya pilihan, kami naiki kereta pengganti itu sambil mengucap syukur Alhamdulillah, interior dalam keretanya lebih manusiawi dari yang pertama kami tumpangi.

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 45 menit, sekitar pukul sebelas siang, kami sampai di Stasiun Ayutthaya. Cuaca agak mendung saat itu, tapi tidak menghalangi semangat kami untuk muterin Ayutthaya. Dari stasiun kami jalan kaki menyeberangi sungai Chao Phraya menggunakan perahu kelotok kemudian menyewa sepeda seharga 100 baht atau kalau dirupiahkan seharga empat puluh ribu rupiah. Lumayan murah untuk ukuran sewa sepeda seharian. Sewa sepeda tersebut sudah termasuk kunci gembok sepedanya (walau kami tetap merasa Thailand tidak begitu aman, jadi mending dijagain aja ya sepedanya).

Daaan, inilah hasil jepretan selfie kami selama muter-muter di Ayutthaya Historical Park! Maaf ya minim foto, karena sudah diamankan di lokasi lain. :(

Di depan the famous Buddha, Wat Mahathat

Di Wat Mahathat versi Selfie!

Cuaca dan puunnya pada bagus-bagus, sih. Beginilah kelakuan gadis-gadis dua puluh lima tahun liat yang bisa #nofilterphoto

Agaiiin.

Dari sekian banyak komplek candi yang tersebar di Ayutthaya Historical Park, kami hanya mengunjungi 3 komplek candi terbaik, yaitu Wat Mahathat, Wat Phra Ram, dan Wat Rachabunara. Selain karena rutenya yang mudah (karena kami cewek bertiga ini sejujurnya takut nyasar dan gak bisa balik ke Bangkok hehehe), kami juga harus siapin stamina untuk belanja oleh-oleh di MBK Center.
Alasan lain yang bikin kami memutuskan gak berlama-lama di Ayutthaya adalah… kami mabok candi dan kuil! Hahaha. Iya, bayangin aja kiri kanannya candi lagi, kuil lagi, begitu saja terus. Jadi kalau menurut kami sightseeing sambil sepedaan juga udah puas banget kok, kecuali teman-teman ada yang ingin hunting foto sepuasnya ya. Jadiii silahkan diperhitungkan waktu jalan-jalannya yang efektif dan efisien seperti apa dan tentunya sesuai dengan tujuan masing-masing.

Pukul setengah tiga sore, kami menyudahi perjalanan kami dan segera bertolak ke stasiun Ayutthaya. Saat mengembalikan sepeda, ternyata ada fasilitas charge HP gratis dan WiFi gratis pula, yesss, jarang-jarang ada yang gratisan di Bangkok (seriusan). Lumayan, sambil istirahat lima belas menitan di tempat penyewaan sepeda kami bisa ngintip hape.

Hal yang perlu diperhatikan kalau jalan-jalan di Thailand adalah… jangan lupa bawa minum yang banyak ya. disini kami minim lapar, tapi sangat sangat tersiksa dengan lembabnya cuaca Thailand jadi akan selalu merasa kepanasan dan kehausan. Selama di Ayutthaya kami tahan untuk tidak makan, tapi tidak untuk minum. Di pemberhentian terakhir, kalau tidak salah Wat Phra Ram, kami memutuskan untuk membeli es kelapa muda, es durian, dan air mineral saking kepanasannya. Kalau tidak minum air kelapa mungkin kami tidak akan mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke Bangkok. :D

See you when I see you, Ayutthaya!

Sesampainya di Stasiun Hualampong, ternyata hujan lebat sekali… akhirnya ada alasan untuk kembali naik taksi untuk menuju MBK Center, hehehehehe. Padahal tempatnya dekat sekali dengan Stasiun Hwalampong, hanya 2 km-an. Berarti ada untungnya juga Bangkok diguyur hujan hari ini.
Menurut pengelihatan kami, MBK itu bentuknya seperti Mall yang dikombinasikan dengan ITC kalau di Jakarta. Karena di 4 lantai pertama isinya adalah gerai-gerai outlet dan di lantai 5 isinya pusat oleh-oleh Thailand. Lagi-lagi karena tenaga yang sudah low battery dan budget yang minim, kami langsung cabut ke lantai 5 yang tampangnya beneran deh, ITC banget! di lantai 5 ini kita bisa belanja sambil nawar lho, jadi pas banget kalau kesini jangan lupa keluarkan jurus tawar-menawar saat belanja di Mangga Dua atau Thamrin City, ya. mbak-mbak jualannya juga jago bahasa Indonesia, saking seringnya menghadapi customer orang Indonesia. Sampai-sampai ada juga orang Indonesia yang buka lapak disini. Lol :))))

Be honest, barang-barang di Bangkok super murah namun kualitasnya oke punya… nggak heran kalau banyak online shop di Indonesia yang menjual kembali barang Bangkok berkualitas bagus lalu harganya di-mark up berkali-kali lipat. Di Bangkok kamu bisa mendapatkan sarung sutra untuk kondangan dengan harga seperlimanya harga di Indonesia, begitu juga dengan kaos-kaos band (yang ternyata produsennya di Bangkok yaa), dan barang-barang embroidery yang halus dan mulus khas Bangkok seperti baju, tas, dan lain sebagainya, itu murah banget. Nggak heran kalau Bangkok disebut sebagai Surga Belanja sama buibuk. 

Pukul setengah sembilan malam, usai sudah perjalanan kami hari ini.. dan saatnya kembali ke daerah kekuasaan kami di malam hari, Khaosan Road. Taruh tentengan sebentar di hotel, kemudian kami keluar lagi untuk beli makan malam dan tiket travel menuju bandara untuk penerbangan siang kami di esok hari.

Kayak gimana, sih ELF ala Bangkok? Ada ceritanya juga ini… hahaha. Stay tuned, ya!


KODILZ.



Tuesday, February 9, 2016

After Almost 3 Months... Aloha Again!


Aloha!
Gak kerasa ternyata sudah tiga bulan saya ndak nyentuh blog kesayangan ini. Ketika persiapan pernikahan semakin menggila saya memang hanya bisa mantengin dia tanpa sempat nulis sekalimat pun… *sesedih itu* padahal sudah janji sama diri sendiri untuk menulis setiap momen berharga disini… okay mellow mode: on. Tapi tapi tapi habis ini (lagi-lagi) berjanji untuk update terus… lebih baik iya daripada nggak sama sekali! Semoga saya istiqamah, mohon doanya!


Update Pertama
Alhamdulillah, pada tanggal 23 Januari 2016 pukul 16.30 saya resmi menjadi Nyonya Aldis Ramadhan *senyam senyum*. Akad nikah berlangsung sore hari di Masjid Nurul Iman Gedung Aneka Tambang Jakarta Selatan, sementara resepsi dilaksanakan malamnya di Ballroom Andrawina Gedung Aneka Tambang, masih di komplek perkantoran yang sama. Keduanya menggunakan adat Sumatera Selatan, seperti yang pernah saya utarakan pada tulisan saya ini.

Hihihi, bahagia sekaligus deg degan menjalani kehidupan berumah tangga. Semoga keberkahan selalu menyertai perjalanan kami dan semoga segera diberikan amanah dari Allah Swt. untuk dititipkan momongan yang sehat, soleh atau solehah, dan cerdas. Aamiin…


Update Kedua
Hmmm. Saya masih punya BANYAK hutang menulis. Namun karena aslinya ngebet banget, saya akan rangkum hutang tulisan saya pada postingan kali ini supaya saya punya reminder… hahaha.




Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 1 Perjalanan Berangkat ke Osaka 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 2 Cold Osaka and its warm ambience 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 3 From Osaka to Kyoto 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 4 Kyoto

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 5 Fushimi Inari Shrine, The Sophisticated SHINKANSEN dan Hujan Selamat Datang dari Tokyo

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 6 Fuji – Halal Ramen – The Throtles

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 7 Museum Fujiko F. Fujio dan Perjalanan ke Sapporo

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 8 TAKINO PARK, SAPPORO, HOKKAIDO

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 9 Sudah lelah dari Sapporo, mari ke Patung Hachiko dan Harajuku 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 10 Don Quijote and Coming Back to Osaka

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 11 Kuala Lumpur again and Indonesia again...

Review Vendor Pernikahan Dilla – Aldis

It’s a right time to enjoy honeymoon: BALI Here We Come!

Welcome to The Marriage Life, The Ramadhans!



Well, kira-kira itulah judul postingan saya ke depan, ndak tahu akan berapa lama judul-judul di atas mulai terukir di blog random ini, tapi semoga sempat untuk menuliskannya di sela-sela deadline kerjaan kantor yang sangat gila huhuhu. Keep writing!

See you, teman-teman!

Cheers,
Dilla(nya) Aldis