Saturday, September 3, 2016

Dilla Went to Malay – Thai 2014: Ancient Thailand called Ayutthaya, Day 3


"Masih terngiang di telingaku…"

eh itu mah lagunya Ike Nurjanah deh. Ketahuan banget ya waktu kecil ikutan dengerin simbak dangdutan. HEHEHEHE.

Iya, masih terngiang bagaimana perjalanan kami menuju ke Ayutthaya dimulai. Kebalikan hari sebelumnya, hari itu Bangkok terasa panas dan berudara lembab – inilah cuaca Bangkok yang sebenarnya, mirip sekali dengan Jakarta tapi sedikit lebih “judes”. Pukul delapan pagi kami keluar dari hotel menuju Stasiun Hualampong menggunakan taksi – ya, taksi. Lupa-lupa ingat juga alasan kami naik taksi apa secara judul perjalanan kami kan “backpacking ceria”, mungkin waktu itu kami mau menghemat waktu (karena bus kota di Bangkok tak ubahnya di Jakarta, bobrok dan gak ada jadwalnya)? Atau gak mau kepanasan? Entahlah, yang pasti kami memutuskan untuk naik taksi ke stasiun.

Sampai di stasiun, kami langsung menuju ke loket pembelian tiket. Loket di stasiun Hualampong – yang merupakan stasiun terbesar di Bangkok – ternyata seperti loket tiket di Indonesia zamannya masih ada kereta ekonomi, belum terkomputerisasi. Tiket masih menggunakan kertas yang nantinya akan diceklek (pakai pembolong kertas, persis dengan di Indonesia dulu) sama petugas kereta api on duty. Okay, plus one untuk Indonesia yang masih lebih canggih ya. :)

Kami membeli tiket kelas 3 seharga 15 baht atau kalau dirupiahkan seharga enam ribu rupiah. MURAH BANGET untuk ukuran kereta antar kota antar provinsi. Menurut Google Maps, jarak Stasiun Hualampong – Stasiun Ayutthaya adalah 81 km, sekitar dua pertiga perjalanan Jakarta – Bandung yang kalau ditempuh naik kereta ekonomi butuh merogoh kocek tiga puluh ribuan rupiah! Wow. Murah.. ya, murah. eh tapi gak mau seneng dulu deh. Please, jangan seneng dulu. Kita harus lihat bagaimana kondisi kereta kelas tiganya Thailand. Hehehe.

Informasi jadwal keberangkatan kereta melalui pengeras suara di Stasiun Hualampong disampaikan menggunakan dua Bahasa, yaitu Bahasa Thailand dan Bahasa Inggris. Kami cukup terbantu dengan hal ini mengingat Bahasa Thailand kok yo seperti bahasa planet, bener-bener gak ada kata serapannya. Kami langsung menuju peron yang dimaksud. Dan. Tahukah kamu seperti apa keretanya? Yes, keretanya persis dengan kereta ekonomi di Indonesia, gak ada bedanya. Malah pandangan subjektifku bilang ini kereta lebih kumuh dari kereta ekonomi Indonesia karena kucel banget seperti nggak pernah dibersihkan. Jadi wajar aja deh kalau kita hanya bayar segitu untuk dapat kereta dengan fasilitas yang segitu-gitunya juga. Terlepas dari fasilitasnya yang seadanya, kami bahagia-bahagia aja karena Thailand menyediakan fasilitas transportasi yang “backpacker friendly”.

Ada sebuah kejadian yang bikin kami terkaget-kaget (banget). jadi ceritanya, ini kereta jalannya pelaaan banget. kayaknya hanya 30-40 km/jam deh, sehingga kemungkinan waktu tempuh Bangkok – Ayutthata menjadi 2 jam yang semula munurut Google Maps adalah 90 menit ( ditambah jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Hualampong pun terlambat setengah jam). Tiba-tiba, kereta berhenti di tengah-tengah perjalananan dan bukan berhenti di stasiun. Berhentinya cukup lama. Terus kami disuruh pindah kereta sama petugas kereta api, yang kami pun nggak tahu alasan pindah keretanya kenapa karena saat itu doi menjelaskannya dengan Bahasa Bangkok (aku ra mudeng, suer).
Kami dan para penumpang yang notabene rata-rata turis mancanegara turun aja gitu dengan langkah gontai setelah itu nangkring di pinggir rel kereta api sambil panas-panasan, duh. Untungnya, beberapa menit kemudian, nestapa kami di pinggir kereta api terobati dengan kedatangan kereta pengganti yang, kayaknya sih, kelasnya naik dari yang awalnya kami tumpangi. Punya feeling kalau kami memang nggak punya pilihan, kami naiki kereta pengganti itu sambil mengucap syukur Alhamdulillah, interior dalam keretanya lebih manusiawi dari yang pertama kami tumpangi.

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 45 menit, sekitar pukul sebelas siang, kami sampai di Stasiun Ayutthaya. Cuaca agak mendung saat itu, tapi tidak menghalangi semangat kami untuk muterin Ayutthaya. Dari stasiun kami jalan kaki menyeberangi sungai Chao Phraya menggunakan perahu kelotok kemudian menyewa sepeda seharga 100 baht atau kalau dirupiahkan seharga empat puluh ribu rupiah. Lumayan murah untuk ukuran sewa sepeda seharian. Sewa sepeda tersebut sudah termasuk kunci gembok sepedanya (walau kami tetap merasa Thailand tidak begitu aman, jadi mending dijagain aja ya sepedanya).

Daaan, inilah hasil jepretan selfie kami selama muter-muter di Ayutthaya Historical Park! Maaf ya minim foto, karena sudah diamankan di lokasi lain. :(

Di depan the famous Buddha, Wat Mahathat

Di Wat Mahathat versi Selfie!

Cuaca dan puunnya pada bagus-bagus, sih. Beginilah kelakuan gadis-gadis dua puluh lima tahun liat yang bisa #nofilterphoto

Agaiiin.

Dari sekian banyak komplek candi yang tersebar di Ayutthaya Historical Park, kami hanya mengunjungi 3 komplek candi terbaik, yaitu Wat Mahathat, Wat Phra Ram, dan Wat Rachabunara. Selain karena rutenya yang mudah (karena kami cewek bertiga ini sejujurnya takut nyasar dan gak bisa balik ke Bangkok hehehe), kami juga harus siapin stamina untuk belanja oleh-oleh di MBK Center.
Alasan lain yang bikin kami memutuskan gak berlama-lama di Ayutthaya adalah… kami mabok candi dan kuil! Hahaha. Iya, bayangin aja kiri kanannya candi lagi, kuil lagi, begitu saja terus. Jadi kalau menurut kami sightseeing sambil sepedaan juga udah puas banget kok, kecuali teman-teman ada yang ingin hunting foto sepuasnya ya. Jadiii silahkan diperhitungkan waktu jalan-jalannya yang efektif dan efisien seperti apa dan tentunya sesuai dengan tujuan masing-masing.

Pukul setengah tiga sore, kami menyudahi perjalanan kami dan segera bertolak ke stasiun Ayutthaya. Saat mengembalikan sepeda, ternyata ada fasilitas charge HP gratis dan WiFi gratis pula, yesss, jarang-jarang ada yang gratisan di Bangkok (seriusan). Lumayan, sambil istirahat lima belas menitan di tempat penyewaan sepeda kami bisa ngintip hape.

Hal yang perlu diperhatikan kalau jalan-jalan di Thailand adalah… jangan lupa bawa minum yang banyak ya. disini kami minim lapar, tapi sangat sangat tersiksa dengan lembabnya cuaca Thailand jadi akan selalu merasa kepanasan dan kehausan. Selama di Ayutthaya kami tahan untuk tidak makan, tapi tidak untuk minum. Di pemberhentian terakhir, kalau tidak salah Wat Phra Ram, kami memutuskan untuk membeli es kelapa muda, es durian, dan air mineral saking kepanasannya. Kalau tidak minum air kelapa mungkin kami tidak akan mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke Bangkok. :D

See you when I see you, Ayutthaya!

Sesampainya di Stasiun Hualampong, ternyata hujan lebat sekali… akhirnya ada alasan untuk kembali naik taksi untuk menuju MBK Center, hehehehehe. Padahal tempatnya dekat sekali dengan Stasiun Hwalampong, hanya 2 km-an. Berarti ada untungnya juga Bangkok diguyur hujan hari ini.
Menurut pengelihatan kami, MBK itu bentuknya seperti Mall yang dikombinasikan dengan ITC kalau di Jakarta. Karena di 4 lantai pertama isinya adalah gerai-gerai outlet dan di lantai 5 isinya pusat oleh-oleh Thailand. Lagi-lagi karena tenaga yang sudah low battery dan budget yang minim, kami langsung cabut ke lantai 5 yang tampangnya beneran deh, ITC banget! di lantai 5 ini kita bisa belanja sambil nawar lho, jadi pas banget kalau kesini jangan lupa keluarkan jurus tawar-menawar saat belanja di Mangga Dua atau Thamrin City, ya. mbak-mbak jualannya juga jago bahasa Indonesia, saking seringnya menghadapi customer orang Indonesia. Sampai-sampai ada juga orang Indonesia yang buka lapak disini. Lol :))))

Be honest, barang-barang di Bangkok super murah namun kualitasnya oke punya… nggak heran kalau banyak online shop di Indonesia yang menjual kembali barang Bangkok berkualitas bagus lalu harganya di-mark up berkali-kali lipat. Di Bangkok kamu bisa mendapatkan sarung sutra untuk kondangan dengan harga seperlimanya harga di Indonesia, begitu juga dengan kaos-kaos band (yang ternyata produsennya di Bangkok yaa), dan barang-barang embroidery yang halus dan mulus khas Bangkok seperti baju, tas, dan lain sebagainya, itu murah banget. Nggak heran kalau Bangkok disebut sebagai Surga Belanja sama buibuk. 

Pukul setengah sembilan malam, usai sudah perjalanan kami hari ini.. dan saatnya kembali ke daerah kekuasaan kami di malam hari, Khaosan Road. Taruh tentengan sebentar di hotel, kemudian kami keluar lagi untuk beli makan malam dan tiket travel menuju bandara untuk penerbangan siang kami di esok hari.

Kayak gimana, sih ELF ala Bangkok? Ada ceritanya juga ini… hahaha. Stay tuned, ya!


KODILZ.



Tuesday, February 9, 2016

After Almost 3 Months... Aloha Again!


Aloha!
Gak kerasa ternyata sudah tiga bulan saya ndak nyentuh blog kesayangan ini. Ketika persiapan pernikahan semakin menggila saya memang hanya bisa mantengin dia tanpa sempat nulis sekalimat pun… *sesedih itu* padahal sudah janji sama diri sendiri untuk menulis setiap momen berharga disini… okay mellow mode: on. Tapi tapi tapi habis ini (lagi-lagi) berjanji untuk update terus… lebih baik iya daripada nggak sama sekali! Semoga saya istiqamah, mohon doanya!


Update Pertama
Alhamdulillah, pada tanggal 23 Januari 2016 pukul 16.30 saya resmi menjadi Nyonya Aldis Ramadhan *senyam senyum*. Akad nikah berlangsung sore hari di Masjid Nurul Iman Gedung Aneka Tambang Jakarta Selatan, sementara resepsi dilaksanakan malamnya di Ballroom Andrawina Gedung Aneka Tambang, masih di komplek perkantoran yang sama. Keduanya menggunakan adat Sumatera Selatan, seperti yang pernah saya utarakan pada tulisan saya ini.

Hihihi, bahagia sekaligus deg degan menjalani kehidupan berumah tangga. Semoga keberkahan selalu menyertai perjalanan kami dan semoga segera diberikan amanah dari Allah Swt. untuk dititipkan momongan yang sehat, soleh atau solehah, dan cerdas. Aamiin…


Update Kedua
Hmmm. Saya masih punya BANYAK hutang menulis. Namun karena aslinya ngebet banget, saya akan rangkum hutang tulisan saya pada postingan kali ini supaya saya punya reminder… hahaha.




Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 1 Perjalanan Berangkat ke Osaka 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 2 Cold Osaka and its warm ambience 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 3 From Osaka to Kyoto 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 4 Kyoto

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 5 Fushimi Inari Shrine, The Sophisticated SHINKANSEN dan Hujan Selamat Datang dari Tokyo

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 6 Fuji – Halal Ramen – The Throtles

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 7 Museum Fujiko F. Fujio dan Perjalanan ke Sapporo

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 8 TAKINO PARK, SAPPORO, HOKKAIDO

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 9 Sudah lelah dari Sapporo, mari ke Patung Hachiko dan Harajuku 

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 10 Don Quijote and Coming Back to Osaka

Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 11 Kuala Lumpur again and Indonesia again...

Review Vendor Pernikahan Dilla – Aldis

It’s a right time to enjoy honeymoon: BALI Here We Come!

Welcome to The Marriage Life, The Ramadhans!



Well, kira-kira itulah judul postingan saya ke depan, ndak tahu akan berapa lama judul-judul di atas mulai terukir di blog random ini, tapi semoga sempat untuk menuliskannya di sela-sela deadline kerjaan kantor yang sangat gila huhuhu. Keep writing!

See you, teman-teman!

Cheers,
Dilla(nya) Aldis

Friday, November 13, 2015

So,

So,
Never imagined before that there's someone who is still excited to listen to my stories day by day... Keep asking me how way your day, everyday.
Never imagined before that he also told me how his day, how exciting his life was and put his caring on our conversation.

And it happens everyday, since we know each other. We didn't meet yet.

He is smart. You know, smart person always steals my heart.
Handsomeness is relative.. :D
Our topic is wide enough, we never run out of idea.
But,
Still, I will never put any expectation on him. My fearness leaves a message to me.

"Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Ku harap kau tahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku slalu didekatmu"
Raisa - Jatuh Hati


Bogor, 21 Februari 2015. 12:56

It's All Beyond My Expectation

It's all beyond my expectation to finally know you with this way.
It's all beyond my expectation to know you as a kind and humble person.
It's all beyond my expectation to know you that you're as warm as a cup of coffee.

But,

I don't know whether you are still beyond my expectation or not... if you are not the answer of my prayers.

O Allah,
Let me meet my other half.
If he is far away, let him be close to me.
If he is close to me, let us unite.
If we are united, please guide us to Your Destiny.

February 16, 2015. 10.57

Dilla went to Malay - Thai 2014: Beautiful Bangkok Day 2


“Stop this train, I want to get off and go home again…
I can’t take the speed it’s moving in…
I know I can’t…
But, honestly, won’t someone stop this train…?”

Lagu Stop This Train milik John Mayer sayup-sayup mengiringi suara hujan yang terdengar dari kamar hotel saat saya terbangun dari tidur malam yang lumayan nyenyak – saking capeknya. Ya, ternyata pagi ini Bangkok diguyur hujan yang cukup deras, sehingga membuat jalanan di sekitar hotel kami agak becek – tidak jauh berbeda dengan di Jakarta saat setelah hujan airnya menggenangi lubang jalan. Oleh sebab itu, kami putuskan untuk tidak terlalu terburu-buru berangkat melancong. Kami tunggu hujan agak reda sambil sarapan di lantai dasar hotel.

Tujuan pertama kami hari ini adalah Wat Pho yang dikenal sebagai Candi Budha tempat bernaung patung ikonik The Reclining Buddha. Jarak antara Khaosan Road dan Wat Pho tidak terlalu jauh, hanya 2,4 km, sehingga kalau mau berhemat masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Berhubung setelah hujan cuaca mendadak cerah, kami putuskan untuk mencapai Wat Pho dengan berjalan kaki sambil menikmati udara pagi Bangkok yang sangat lembab – lebih lembab dari Jakarta.

Coret-coretan lucuk di dekat Khaosan Road


Patung Gajah di persimpangan jalan menuju Wat Pho

Detailnya... imut-imut.



Satu yang menurut saya berkesan selama saya berada di Bangkok: saya suka sekali dengan trotoarnya yang lebar-lebar! Rata-rata trotoar di Bangkok memiliki lebar 2-3 meter. Ini tentunya membuat para pejalan kaki merasa nyaman untuk berjalan kaki menikmati pemandangan kota Bangkok. Jika di Indonesia kamu menemukan pedagang kaki lima yang “gak bisa lihat trotoar nganggur”, disini kamu juga akan menemukannya, tapi sebatas di trotoar yang jaraknya sangat dekat dengan obyek wisata. Paling tidak, dengan fasilitas trotoar yan super lebar ini saya tidak merasa terganggu atau mengganggu lapak pedagang kaki lima yang besar lapaknya tidak seberapa itu.

Saya pikir, Bangkok akan mirip dengan Jakarta setelah hujan; langit akan mendung, sesekali petir dan kilat memperlihatkan eksistensinya. Nyatanya tidak. Setelah hujan, Bangkok menjelma menjadi kota yang super panas dan super lembab! Berjalan kaki menuju Wat Pho saja sudah membuat kaos basah dan hampir dehidrasi. Beruntungnya, kami menerima kenyataan bahwa beli tiket masuk Wat Pho gratis air mineral! Alhamdulillah, kayaknya pengelola obyek wisata di Thailand paham banget kalau disini super super panas. Plus plus-nya juga, di Wat Pho ada fasilitas air siap minum gratis, jadi kami tidak perlu beli air mineral lagi, lagi, dan lagi… *backpacker kelas bawah super hemat*

Harga tiket masuk Wat Pho adalah 100 Baht atau sekitar empat puluh ribu rupiah. Ini harga yang cukup relevan dengan biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Thailand dalam rangka melestarikan kuil seindah ini. Banyak sekali ornamen-ornamen berlapis emas yang, pastinya, butuh effort lebih dalam merawatnya.



Genggong and The Super Huge Reclining Budha~







Setelah puas memanjakan mata dengan pemandangan stupa-stupa nan cantik di Wat Pho, kami bertolak ke Grand Palace yang lokasinya bersebelahan dengan Wat Pho. Sebenarnya, sih, Wat Pho dan Grand Palace masih satu distrik yang terpisah dengan jalan raya. tetapi karena pintu masuk Grand Palace ada di bagian utara komplek (sementara pintu masuk Wat Pho ada di selatan Grand Palace), jadilah kami harus “muterin” Grand Palace.

Di beberapa blog yang saya baca sebelum traveling, tidak sedikit blogger yang memberikan warning untuk berhati-hati saat berada di wilayah Grand Palace, karena banyaknya scam yang siap-siap tipu-tipu. Modusnya, sih, dengan bilang kalau Grand Palace tutup dan sang scam akan mengajak kita jalan-jalan ke kuil lain -- padahal dia bakal ajak kita ke toko perhiasan. Tapi, lagi-lagi kita bertiga nggak disamperin scam selama disana (boro-boro ketemu dan ditawarin, ngerti sama bahasanya aja enggak :D)





Grand Palace adalah tempat bersejarah yang sarat akan nilai budaya *beneran*. Perlu diketahui bahwa warna emas yang banyak kita temui pada bangunan-bangunannya merupakan sepuhan emas beneran yang butuh biaya maintenance yang nggak sedikit. Salut sama Kerajaan Thailand yang menaruh perhatian penuh sama bangunan bersejarah yang mereka punya, dan salut juga sama resiko perawatan bangunan yang sudah siap mereka emban!

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 saat kita selesai muter-muter Grand Palace. Laper banget, pastinya. Keluar dari Grand Palace, kami berencana untuk ke Wat Arun yang terletak di seberang Sungai Chao Praya. Untuk mengakses Wat Arun, kami harus menyeberangi Sungai Chao Praya naik Cross River Ferry dari Tha Tien Pier (nama pelabuhan perahu di dekat Wat Pho). Di bagian luar Tha Tien Pier ada Pasar yang didominasi oleh penjual santapan khas Thailand dan buah-buahan. Tanpa pikir panjang, kita-kita langsung melipir cari makan sebelum nyeberang ke Wat Arun.

Entah kenapa kalau lagi jalan-jalan jauh pasti males makan. Pasti. Walaupun kita ngerasa lagi lapar. Kalaupun makan ya porsinya tidak sebanyak kalau lagi nggak jalan-jalan *apa sih*. Intinya, entah karena hemat atau karena memang tidak kepengen, saya dan Genggong hanya memesan Kue Srikaya 1 porsi dan Mango Sticky Rice alias nasi ketan pake mangga 1 porsi, buat bertiga. Sedikit, kan, porsinya? Alhamdulillah kenyang, sih. Sayang, penampakan hasil wisata kuliner kita di Tha Tien Pier gak sempat saya capture karena ga sabar pengen makan (1) dan baterai handphone ludes (2).

Selesai makan, ketika akan bertolak ke Wat Arun, tiba-tiba hujan turun. Yak! Gagal deh nyeberang ke Wat Arun. Kita bertiga juga tidak mau ambil resiko dengan hujan-hujanan kesana. Bisa gawat kalau kondisi tubuh tidak fit saat lagi berada d negara orang. Walau dengan berat hati, kami putuskan untuk tidak menyeberang dan mengisi waktu dengan muterin pasar nyari jajanan lucu dan murah meriah. Not bad, soalnya banyak pemandangan unik di pasar ini. Akhirnya perhatian kita tertuju pada durian monthong yang bertebaran di setiap sudut pasar. Okay, jajan durian lagi deh seperti pas di Kuala Lumpur. Tidak hanya buah durian saja yang kami cicip disini, kami juga cicip buah nanas Bangkok (kalau kata orang Indonesia) yang manis banget banget dan cicip buah mangga juga. Bukan mangga harumanis sih, tapi segarnya tidak tergantikan oleh mangga-mangga yang ada di Indonesia, menurut saya. :)

Ternyata cara menikmati Wat Arun tidak harus dengan "nyeberang". Saat di perjalanan pulang ke hotel, kami melipir di sebuah taman di pinggir sungai Chao Praya. Saya lupa nama tamannya. Di taman itu kami bisa melihat pemandangan Wat Arun dari seberang saat petang tiba, dihiasi dengan cahaya matahari tenggelam nan indah. Pemandangan yang luar biasa dan lumayan membantu melepas lelah lebih cepat (asik).

Pardon those noises. Wat Arun on Sunset.



Wat Arun dari seberang Sungai Chao Praya

Puas dengan pemandangan yang indah dan lelah yang sudah released, kami putuskan untuk pulang ke hotel dan mempersiapkan jalan-jalan hari keempat: AYUTHTAYA! :) 

Kalau punya cerita Bangkok yang bisa di-share disini, monggo, lho, teman-teman. :)



Salam jalan-jalan random,
Leila Fadilla

Tuesday, October 27, 2015

Ngobrolin Persiapan Pernikahan


Halo Assalamualaikum!

Eh, saya masih punya hutang menulis hari kedua dan ketiga Malay – Thai Trip 2014 ya? Maafkeun, karena satu dan lain hal, saya pending dulu ya. *padahal karena dokumentasi pada tercecer entah kemana dan sibuk ngurus perintilan persiapan nikah*

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan aktivitas persiapan pernikahan. Maklum, saya dan si calon hanya punya waktu 6 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Jangan kaget kalau baca “hanya 6 bulan”, “trend” persiapan pernikahan di Jakarta memang butuh range waktu yang panjang terutama masalah venue pernikahan. Saya dan calon bisa siap-siap dalam waktu segitu singkatnya juga sudah Alhamdulillah, hahaha.

Rasanya…
Bagaimana rasanya mempersiapkan pernikahan? Hmmm, pertama, SERU! Mulai dari menentukan venue, catering, dekorasi dan wardrobe, fotografi dan yang lainnya, semuanya seru banget. mungkin pada dasarnya saya memang tipe anak yang suka KEPO (knowing every particular object) jadi kalau saya disuruh cari tahu mana yang bagus, punya reputasi baik, dan affordable, dengan senang hati saya akan ngubek-ngubek di social media atau blog-blog yang ngebahas review vendor-vendor pernikahan.

Perlukah WO?
Dalam masa persiapan, saya gak begitu rush dengan perintilan pernikahan karena saya memutuskan untuk menggunakan jasa Wedding Organizer (WO). Beberapa teman bilang “Dil, daripada pakai WO, mending uangnya dialokasikan ke perintilan yang lain, deh.” Tapi dengan waktu persiapan yang lumayan tight, rasanya gak mungkin untuk gak pakai WO. Beside, di “D-Day”, saya ingin keluarga dan kerabat terdekat bisa menyaksikan akad nikah dan menikmati walimahan tanpa punya tanggung jawab ngurus ini-itu. Buat saya, WO itu ibarat personal assistant yang mengingatkan perintilan-perintilan tak terduga. Emang, sih, biasanya kalau habis meeting sama WO kepala jadi pusing karena sedertan to-do-list ini belum itu belum langsung ter-raise-up. Mending pusingnya sekarang daripada nanti! Ya kan?

Tradisional vs Kekinian
Saya sangat mengimpikan pernikahan tradisional sejak kecil. Setiap datang ke akad nikah atau resepsi pernikahan kerabat, saya selalu disuguhkan dengan pemandangan Aesan Gede, pakaian adat khas Sumatera Selatan yang membuat saya semakin kepengen menggunakan pakaian tersebut. Maka, ketika D-Day is about to come, saya gak banyak pikir, langsung memilih adat Sumatera Selatan sebagai adat yang akan saya gunakan. Alhamdulillah, sang calon juga memiliki darah Sumatera Selatan sehingga tidak ada masalah yang berarti saat memilih adat.

Pernikahan simple nan kekinian memang saat ini menjadi tren. Kakak saya sempat memberi masukan untuk membuat resepsi pernikahan dengan tema outdoor party. Hmmm, sayangnya, saya tetap menginginkan kekentalan budaya Sumatera Selatan di dalam ruangan yang nyaman. Jadi, untuk saat ini, menjadi penikmat foto-foto outdoor wedding party yang bersebaran di social media sudah cukup buat saya.

So, siapakah di antara kamu yang sudah mempersiapkan pernikahan dari jauh-jauh hari?
Apakah kamu akan menggunakan WO atau mempersiapkan segala sesuatunya sendiri?
Pilih tradisional atau kekinian?

Berbagi pengalaman, yuk, teman-teman!

Xoxo,
DillaZilla

Wednesday, October 7, 2015

I've just pressed a BRIDEZILLA button! Welcome to the jungle!

Ternyata, keren itu bukan hanya “What you’ve already prepared to build a family” tetapi juga “How big your commitment is to build a family.”

Ternyata, some problems when facing a wedding preparation may come from your closest people.

*Leila Fadilla is becoming a bridezilla*

*and I will face it for 3 months ahead*

*selingan menuju postingan Day 2 Bangkok*


Regards,

DillaZilla