Tuesday, April 2, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 5] Tsukiji Jogaii Market, Lake Kawaguchi, Kachikachiyama Ropeway and Fuji-san!

Assalamu'alaykum warohmatullah!

Tujuh belas Maret dua ribu lima belas.

Setelah bermalam di Tokyo, alhamdulillah mood yang semalam sedikit berantakan udah agak membaik. Hari ini itinerary kami adalah ke Tsukiji Jogaii Market dan Lake Kawaguchiko. Yes!!! Tsukiji Jogaii Market adalah pasar ikan terbesar di Jepang, dimana seperti pasa ikan pada umumnya, kehidupan disini dimulai dari dini hari. Tsukiji Market terkenal dengan fish auction-nya, yaitu lelang ikan-ikan segar terbaik di dunia dengan harga yang berani ditawar dengan fantastis. Kalau kita datang pukul 4 pagi mungkin kita bisa menyaksikan aktivitas lelang ikan tersebut, sayangnya kita datang sekitar pukul 7 pagi sehingga hanya bisa menikmati kudapan laut segar disini saja. Dari hostel kami jalan kaki dulu menuju stasiun Asakusa, kemudian naik Asakusa Line turun di Higashi Ginza dan jalan kaki sedikit saja. Sampai deh disini...

Kami sangat menikmati berada di Tsukiji Fish Market, apalagi kalau bukan makan seafood segar dengan bumbu sederhana khas Jepang, meleleh di mulut ~~~

Cuma dibakar gini doang aja enaknya masya Allah~~


Ikan tuna segede saya. Ya, saya!


Oyster fenomenal... Parah, enak banget!




Bapak penjual oyster, arigatou gozaimasu!




Mission accomplished!

Satu jam dirasa cukup untuk mengitari Tsukiji Jogaii Market. Selanjutnya kami akan bertolak ke Lake Kawaguchiko untuk ketemuan sama si cantik Fuji-san. Untuk menuju kesana kami menggunakan fasilitas JR Pass, yaitu naik JR Chuo Line dari Stasiun Shinjuku menuju ke Stasiun Otsuki, kemudian dilanjutkan dengan membeli tiket Fujikyu Line untuk ke Lake Kawaguchiko di Stasiun Otsuki (harganya sekitar 2,280 yen). Kenapa bela-belain naik Fujikyu Line yang rada mahal? Pertama karena keretanya punya desain yang oke punya, lucu-lucu banget karakter Fuji-san yang dilukiskan di kereta Fujikyu ini! Kedua karena keretanya punya jendela yang besar-besar sekali, sehingga memang cocok untuk dijadikan kendaraan sightseeing... dan benar saja, sewaktu kami menaiki kereta ini menuju Lake Kawaguchiko, terjadi kehebohan setiap para turis melihat pemandangan Fuji-san yang sangat cantik itu... semua yang ada di kereta berteriak "whoaaah" berkali-kali saking takjubnya. Saya bisa katakan ini adalah sensasi eyegasm yang luar biasa. Fuji-san benar-benar secantik itu! Memang saat kami kesana, cuaca di sekitar Fuji-san sedang cerah-cerahnya, tidak ada kabut yang menutupi Fuji-san sama sekali, sehingga kami dapat menikmati pemandangan Fuji-san dari sudut manapun. Masya Allah. Huhuhu jadi kepingin balik lagi :D Insya Allah.

JR Chuo Limited Express~~~

Interior di dalam JR Chuo Limited Express. Kece!

Kursinya bisa dibalik, mengingatkanku pada kereta Taksaka :D

Fujikyu Line~~ Lucu banget parah!

Pemandangan Fuji-san dari dalam Fujikyu Line.
That moment ketika sekereta bilang : "Whoaaaa!" pas ngeliat Fuji-san.

Sesampainya di Lake Kawaguchiko waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, perut pun sudah mulai keroncongan, jadi kami mampir dulu ke Seven Eleven untuk membeli beberapa potong onigiri sebagai kudapan kami siang ini. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di pinggir Lake Kawaguchiko hingga tiba di salah satu tujuan wisata kami di Lake Kawaguchiko: Kachikachiyama Ropeway!


Turun dari Fujikyu Line aja pemandangannya kaya gini, masya Allah :")

Ohayou gozaimasu, Lake Kawaguchi!

No filter needed, alhamdulillah cuaca lagi bagus banget!

Jadi Kachikachiyama Ropeway ini merupakan Ropeway sepanjang 400 meter yang menghubungkan Lake Kawaguchiko dan Observation Deck di dekat puncak Tenjoyama, tempat yang memiliki ketinggian 1.075 mdpl dimana kita bisa menikmati view Lake Kawaguchiko dan Fuji-san 360 derajat. Kami memilih round trip untuk naik Kachikachiyama Ropeway menuju Observation Deck (males hiking hehehe), kalau mau hiking juga bisa saja, bisa trail hiking sejauh 300 meter dengan elevasi yang lumayan bikin paha pedas kalau nggak terbiasa :D Tapi itu semua insya Allah terbayar kok sesampainya di Observation Deck. Beneraaan disini kalian bisa puas-puasin mata memandangi Fuji-san yang masya Allah cantiknya... saking speechless-nya, saya akan menjelaskan keindahannya melalui foto…













Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saatnya untuk pulang ke Tokyo. Sedih sekali rasanya untuk meninggalkan Fuji-san yang sangaaaaat cantik. Tapi apa mau dikata, itinerary lain telah menunggu untuk dijalankan. Sayonara Fuji-san, semoga Allah kasih kesempatan ke kita buat ketemu kamu lagi, ya. Beneran sedih banget.
















Baik, kami pulang ke Tokyo menggunakan rute yang sama, namun saat naik JR Chuo Line, kami turun di Stasiun Shinjuku karena akan mencicip sebuah restoran ramen halal rekomendasi Mira, teman kuliah saya yang juga tukang ngebolang, Kaijin Ramen. Kami sampai di Stasiun Shinjuku pukul 7 malam dan segera bergegas ke Kaijin Ramen yang ternyata… antre paraaaah. Ah, padahal kami sudah sangat lapar. Tapi tak apalah, kami tunggu saja. kami baru ingat kalau waktu makan orang Jepang tidak selama orang Indonesia. :D

Ternyata benar saja. Kami hanya perlu antre 30 menit untuk bisa dapat seat disini. Padahal antrean restoran ini mengular sampai ke tangga dan lantai dasar gedungnya, lho. Ditambah restorannya terletak di lantai 2 sebuah ruko kecil di sekitar pusat perbelanjaan Shinjuku, sempit? Sudah pasti. Tapi Alhamdulillah ini Jepang, bebas semrawut dan menjunjung tinggi asas antre dengan tertib. Hehehe. 

Kenapa, sih, Kaijin Ramen atau Menya Kaijin ini halal? Jadi kuah ramen Kaijin ini memang unik, maksudnya ya jarang aja sih ketemu ramen kayak begini hahaha, mereka menggunakan kaldu seafood sebagai bahan dasar kuah ramennya. Jadi insya Allah udah terpercaya, deh (selain karena udah halal certified juga, sih, hehehe). Ingat, ya, daging sapi non halal di luar negeri bukan saja karena pisaunya yang mungkin bercampur dengan hewan non halal seperti babi, tetapi juga karena cara sembelihnya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Saya memesan Spicy Seafood Based Ramen lengkap dengan rice cake seharga 1030 yen. Rasanya? Light tapi seger banget! Style ramennya memang berbeda dengan Hakata Ramen yang ada di Jakarta, yang mana Hakata Ramen itu kuahnya kental sekali. Sementara Kaijin Ramen ini ringannya seperti makan Indomie rasa ayam bawang tapi tentunya dengan rasa yang lebih khas. Nikmaaat. Oh iya, kalau kamu berhasil menghabiskan ramennya, kamu bisa mendapatkan kuah tambahan gratis! Cocok buat backpacker!

Itadakimasu~~~

Ngga ngerti apaan tapi ngeliat gambarnya lucu aja :))))

Perut kenyang hati senang bukan kepalang. Kami keluar dari Menya Kaijin diiringi dengan senyuman riang para juru masak disana. Kami pulang ke hostel dengan langkah kaki bahagia diiringi band jalanan keren yang kami temui di jalanan menuju stasiun Shinjuku, The Throtles. Tak lupa kami sisihkan sebagian uang jajan kami untuk mereka dan berfoto bersama sebelum meninggalkan mereka. Alhamdulillah, hari ini isinya cerita bahagia semua. 




Fin! Next: Museum Doraemon dan perjalanan menuju Sapporo!

Tuesday, March 26, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 4] Last Day in Kyoto; Fushimi Inari Shrine, Shinkansen and Rush Tokyo

Assalamu’alaykum warohmatullah...

Enam belas Maret dua ribu lima belas.
Hari ini, yang merupakan hari terakhir kami di Kyoto, merupakan waktunya kami mengunjungi Fushimi Inari Shrine. Selain sarat nilai budaya Jepang yang sangat kental, susunan Torii di sepanjang kuil ini begitu sedap untuk dipandang dan diabadikan. Sebenarnya mengunjungi Fushimi Inari Shrine bukan itinerary utama kami alias opsional, tetapi mumpung lagi di Kyoto dan masih punya tenaga lebih, saya dan Unad menyempatkan untuk mampir ke kuil tersebut sementara para lelaki memilih untuk stay di hotel sampai dengan keberangkatan ke Tokyo nanti siang.

Sekitar pukul delapan kami berangkat dari hostel. Fushimi Inari Shrine tidak jauh dari tempat kami menginap, Khaosan Kyoto Guesthouse, hanya berjarak 5 stasiun saja bila ditempuh dengan kereta. Untuk mencapai Fushimi Inari Shrine, kami memilih naik Keihan Main Line yang sudah termasuk ke dalam coverage Kansai Thru Pass yang kami beli saat landing di Osaka.

Mendung... pake kamera iPhone...


Mandatory wefie dulu sama Unad kesayangan :DD
















Pukul dua belas kami sudah tiba kembali di hotel untuk check out dan menuju Stasiun Kyoto untuk naik Shinkansen menuju Tokyo.

Naik Shinkansen. Repeat, naik Shinkansen.

Yeay akhirnya nyobain naik Shinkansen!!! *norak*

Tiba di Stasiun Kyoto, kami langsung antre tukar JR Pass di JR Tourism Center sekaligus book seat Hamanasu Sleeping Car untuk ke Sapporo nanti, Masya Allah, stasiun Kyoto ini bagus sekali… juga ramai tapi nggak semrawut.




Hari ini kami cukup santai… pace kami tidak secepat kemarin…
Kami sampai di Stasiun Tokyo sudah petang dan disambut dengan hujan yang cukup deras.
Sejujurnya kami agak kaget begitu tiba di Tokyo. Gila, ritme penduduknya cepat sekali! sangat jauh berbeda dengan ritme penduduk di Osaka dan Kyoto yang cenderung santai… jalan juga nggak seradak seruduk… jujur saja hal ini sempat membuat saya “ilfil” dengan Tokyo. Tapi ya sebenarnya inilah potret negara Jepang yang kita kenal di luar sana, jadi kita nikmati sajalah…

Rencana kami untuk sightseeing di Asakusa jadi gagal karena hujan belum berhenti juga hingga malam hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar hotel, kebetulan ada Yoshinoya dan kami langsung melipir (jujur, waktu itu kami belum tahu kalau Yoshinoya Jepang tidak halal, maafkan ya Allah). Oh iya, selama di Tokyo kami menginap di Khaosan World Asakusa Hostel yang masih rekanan dengan tempat menginap kami di Kyoto. Namun sejujurnya kami lebih suka dengan vibe hostel kami yang di Kyoto karena lebih bersih walaupun common room-nya lebih kecil.

Maafin Ya Allah, nggak tau kalau ini tuh nggak halal :")





Kami menutup hari ini dengan check in di hostel, selonjoran, dan beristirahat. Tiba-tiba pukul 9 malam Welly Whatsapp saya, "Dil, laper, nggak? Belanja yuk, terus kita masak deh di common room.", wah saya yang masih merasa lapar langsung mengiyakan dong, sementara Unad yang udah kecapekan memilih untuk tidur. Hehehe. Saya langsung ngeloyor keluar pakai piyama dan jilbab instan sama Welly, Aboy, dan Aray untuk belanja di supermarket di sekitar Asakusa. Kami berbelanja di supermarket yang buka 24 jam yang ternyata masih ramai aja disini... dan adalah hal yang umum disini untuk belanja tengah malam karena harga produknya jadi lebih murah. Iya, se-fresh itu sayur, buah, ikan-ikanan, dan daging-dagingan yang dijual di Jepang hingga bela-belain diskon di tengah malam dan besoknya udah ganti produk lagi. The best!

Pajamas Style pas belanja ke supermarket...

Belanjaan kita-kita!

Balik dari supermarket kami langsung masak (((semangat 45 banget karena ternyata masih lapaaarrr))) di common room hostel yang kebetulan lagi sepi. Seru banget ternyata main masak-masakan sama pria-pria ini :D main masak-masakan ini semacam self healing untuk saya pribadi karena sejujurnya hari ini lumayan kecewa dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasi.

Kami masak apa saja? Masak nasi, yes kita beli Japonica Rice yang murah dan enaaak banget. Terus masak telur setengah matang. Entah kenapa saya merasa telur di Jepang ini kok bagus-bagus ya, kualitas paten lah. Padahal bukan telur ayam kampung, tapi terasa sangat fresh dan kuning telurnya itu, lho... beda deh, sulit dijelaskan :D. kemudian kami beli fresh sashimi 500 gram harganya sekitar 500 yen an atau 60 ribu... murah banget kan? Kemudian beli unagi dan cumi bumbu teriyaki yang ternyata isinya nasi, jyah ketipu... kirain isinya cumi juga, hehehe. Tapi tetap enak rasanya.


Yang di sebelah kiri dan kanan itu cumi teriyaki isi nasi :D

Oishiii...

Jyaaah kena tipu dia :))))

Pukul 1 malam saya pamit masuk kamar. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak karena perut kenyang. Saatnya beristirahat mempersiapkan tenaga buat ke Lake Kawaguchiko!

Wassalamu'alaykum warohmatullah!

Tuesday, March 19, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 3] another Kyoto; Sagano Scenic Railway and Apprentice Geisha

Assalamu'alaykum Warohmatullah!

Lima belas maret dua ribu lima belas. Pas bangun tidur kok rasanya nggak enak banget ya. Kok dinginnya menusuk banget ya. Ternyata eh ternyata pagi itu Kyoto bersuhu 1 derajat aja. Musim semi macam apa ini?
Eaaa halu sok sok an musim semi, musim peralihan kali, Bu... :))

Hari itu rencananya kami akan ke Arashiyama Bamboo Forest dilanjutkan dengan naik Sagano Scenic Railway. Kalau Arashiyama Bamboo Forest mah emang mainstream banget lah di kalangan traveler, istilahnya nggak ke Kyoto kalau nggak mampir ke Arashiyama. Sebenarnya yang bikin menarik Arashiyama ini bukan hutan bambunya, tapi perjalanan dari Stasiun Shin-arashiyama menuju hutan bambunya itu...yang penuh dengan streetfood Jepang! *Lagi-lagi tentang makanan :)) berikut ini saya share beberapa streetfood yang kami temukan dan nggak ada yang failed semuanya endol!

Ini tuh semacam kulit ayam bumbu teriyaki. Enak banget!

Kalau ini ikan mackarel bumbu teriyaki dengan taburan bawang goreng. Enak juga ya Allaah.

Kalau ini Takoyaki. Standar sih cuma seneng aja ngeliat penjualnya bolak-balikin Tako-nya. Lihai!


Jadi di sekitar pintu masuk Arashiyama itu ada sebuah toko yang jual BonCabe! Iya, BonCabe, tapi yang ini jauh lebih enak. Sebenarnya saya nggak sengaja nemuin toko BonCabe ini. Awalnya karena tertarik nyobain testernya di depan toko, yaa namanya juga budget traveling ya, pasti mata kita ijo melihat tester gratisan. Testernya hanya nasi kepal dikasih BonCabe-nya mereka. Saya kira rasanya standar, hanya nasi putih pedas-pedas ala ala Jepang, pahit tanpa rasa yang otentik gitu, nggak taunyaaaaa aaaaaaaa enak banget! Parah! Jadi kayaknya itu bubuk abon cabe sudah diolah dengan bumbu-bumbu khas yang entah apa isinya - dan juga dicampur dengan wijen sangrai yang rasanya alamaaak enaknya, udah deh. Bahasa zaman sekarangnya tuh kelar perut lo! Hahaha. Saking enaknya, saya dan Aboy nyetok 3 bungkus untuk dimakan dengan nasi hangat di hostel nanti dan tentunya untuk oleh-oleh dibawa pulang. :) Tapi suatu saat saya diberi kesempatan untuk ke Kyoto lagi, saya akan mengunjungi toko yang sama untuk restock abon cabe amboi itu hehehe.

Ini lho tester yang saya maksud di atas :)) abaikan kerta hitung-hitungan itinerary itu ya :))

Tester produk yang lainnya. Ini juga enak banget!

Kemasan BonCabe-nya cute banget...

Setelah selesai belanja BonCabe, kami tawaf di dalam kawasan Arashiyama Bamboo Forest dan mengakhiri perjalanan kami di Stasiun Torokko Saga untuk naik Sagano Scenic Railway atau yang juga dikenal sebagai Sagano Torokko. Disini kami akan diajak menyusuri Hoguzawa River menggunakan old style train yang pastinya masih berbahan bakar diesel. Sebenarnya waktu yang tepat kalau kesini adalah musim semi atau musim gugur karena kita akan dimanjakan dengan pemandangan sakura atau pohom plum yang berwarna warni di sepanjang pinggiran sungai, tapi nggak ada salahnya juga kok kalau pas ke Jepang di musim peralihan untuk mencobanya, karena pemandangan sungai dan perbukitannya juga udah keren banget.

Kereta yang bakal dinaikin. Sumber: www.japan-guide.com

Pemandangannya :")

Gimana nggak jadi ngantuk ya kalau keretanya terbuka seperti ini hahahaha.

Ini merupakan itinerary yang wajib bagi kami karena kami super penasaran setelah melihat foto-foto di blog-blog orang kok kayaknya kalau kesini tuh semacam "klimaks"nya Arashiyama Bamboo Forest, karena cantiiiik banget. Dan asli, Masya Allaah, aslinya memang luar biasa bagusnya. Lelah jalan jauh-jauh kesini benar-benar terbayar... udah gitu selama perjalanan kita ditemani angin sepoi sepoi di kereta.. alamak, pengen balik lagi rasanya kalau ada rejeki. Aamiin!

Keretanya... mohon maaf fotonya nggak proper, lagi rame banget disini :")
Pemandangan Hoguzawa River di musim peralihan.
Kami turun di Stasiun Torokko Kameoka untuk bisa naik JR Sagano Line. Tinggal jalan sebentar ke Stasiun Umahori. Saat jalan kaki ke Umahori kami melewati sawah dan ladang milik penduduk. Pemandangannya cukup breathtaking dan nggak ada salahnya juga foto-foto sedikit disini. Luv banget dapet pemandangan cantik gratis kayak gini.

Pukul lima waktu setempat, kami menuju itinerary selanjutnya yaitu Gion Walk. Like a mainstream said... ya gitu aja sih liat perempuan-perempuan ber-yukata. Sebenarnya kami berharap buat ketemu Geisha tapi sepertinya sedang tidak beruntung. Nah... Hint-nya pas kesini itu bukan Gion Walk-nya tapiii nonton Appretiation of Apprentice Geisha yang jadi bagian sari Hanatouro Festival. Kalau kamu ke Kyoto pas pertengahan Maret, wajib banget buat ikut minimal 1 dari sekian banyak rangkaian festivalnya. Biasanya festival di Kyoto yang berhubungan dengan Spring adalah menghidupkan lampu temple mereka sehingga ketika difoto di malam hari jadi cuantik pol. Nah kalau Hanatouro rangkaiannya berupa dihidupkannya lampu lentera di sepanjang Maruyama Park dan kalau kamu beruntung bisa nonton Apprentice Geisha Show tadiii. Dari kawasan Gion ke Maruyama Park tinggal jalan kaki sedikit aja kok, worth it banget deh. Lebih lengkapnya bisa dibaca disini ya: klik link ini

Cantiknya~

Sempetin makan lagiii. entah ini apa namanya, tapi enak dan ini tumbuhan ya bukan daging-dagingan :)


Dan Alhamdulillaah kami kebagian nonton Geisha-nya. Bener-bener cantik banget penampilannya.
Hari ini melelahkan, tapi semua yang dilihat bisa membayarnya. :) ah, Kyoto memang surganya pemandangan indah. Semoga Allah mengizinkan saya dan keluarga ke Kyoto lagi, aamiin!

Wassalamu'alaykum warohmatullah...

Friday, February 23, 2018

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 2] Kyoto; Kiyomizu Dera and The Hanging Veranda

Empat belas Maret. Setelah kami istirahat dan sightseeing ke beberapa must visit place-nya Osaka, keesokan harinya kami check out dan bertolak ke Kyoto. Walaupun sudah masuk musim peralihan, ternyata suhu Osaka masih stabil di 5 derajat celcius pagi ini, jadi kami banyak memindahkan pakaian dingin dari koper ke tas ransel. Kami masih bisa toleransi suhu tersebut, namun angin di Osaka cukup kencang dan lumayan menusuk sehingga turis-turis negara tropis seperti kamu harus lebih prepare. Hehehe. 

Kami masih menggunakan fasilitas Kansai Thru Pass untuk menempuh perjalanan dari Osaka ke Kyoto. Kalau lihat di Google Maps, sebenarnya jarak Osaka - Kyoto ini seperti Jakarta - Bogor, hanya ditempuh selama 1 jam-an naik kereta commuter. Bedanya hanya di kepadatan commuter-nya saja, sih, dimana commuter Osaka - Kyoto itu lengang banget, hahaha. Saking lengangnya, satu gerbong bisa kita gunakan bebas, karena selama perjalanan dari Osaka ke Kyoto isinya cuma kita doang. Mungkin commuter yang kami gunakan ini bukan jalur favorit, ya, makanya jadi sepi begitu.

Karena gembolan kami cukup banyak, maka kami kepikiran untuk langsung menuju tempat menginap untuk titip koper. Barangkali aja ada kebaikan dari Resepsionis Khaosan Kyoto Guesthouse, hehehe. Jadi dari Backpacker Hotel, kami berjalan menuju Stasiun Dobutsen-Mae untuk naik Sakaisuji Line menuju Stasiun Kita Senri. Dari Stasiun Kita Senri kita nggak pindah kereta karena kereta ini akan melaju sebagai Hankyu Senri Line menuju Kita Senri kemudian turun di Stasiun Awaji. Di Stasiun Awaji baru deh kita ganti kereta menjadi Hankyu Kyoto Line kemudian turun di Stasiun Awaramachi. Tinggal jalan sedikit saja dari Stasiun Awaramachi, kita sudah sampai di Khaosan Kyoto Guesthouse. By the way, maaf ya kalau penjelasan kereta mengkereta ini terlihat sangatlah rumit hehe. Tapi kalau teman-teman sudah terbiasa baca penjelasan transportasi di Google Maps pasti paham maksud saya ini  :D

Alhamdulillah, ya, rejeki anak sholihah kayaknya, kami diizinkan untuk titip koper di Guesthouse! Dari awal booking penginapan di Khaosan Kyoto Guesthouse memang saya sudah punya firasat baik dengan tempat ini. Dan, nilainya di hostelworld.com memang sudah terbukti dari hari pertama sampai disini. Begitu masuk, kami diizinkan untuk check in duluan walaupun belum waktunya check in karena hari itu masih pagi, kalau tidak salah masih pukul 10 pagi. Setelah itu kami juga diizinkan untuk meletakkan koper di ruang khusus titip koper (they even consider it for budget traveler like us, wow). Insya Allah nitip koper disitu aman selama sudah dilengkapi dengan kunci kita sendiri dan tagging card yang disediakan oleh pihak Guesthouse. Bahkan para lelaki pun diizinkan untuk shalat menggunakan salah satu ruang kosong di Guesthouse!!! Cool sekali. Jadi ingat pengalaman menginap di Sunshine Bedz KL, hostelnya juga bagus banget, tapi sayang kita tidak boleh beribadah di ruang kosong, even di space kosong kamar kita sendiri. Sehingga kalau mau shalat ya berarti kita shalat di tempat tidur sambil duduk karena bentuk tempat tidurnya bunkbed jadi tidak bisa sambil berdiri. Atau kita minta izin ke teman sekamar yang lain untuk beribadah. Untungnya waktu itu saya punya temen sekamar bule yang baik banget yang ngizinin untuk beribadah di space kamar yang kosong.
Ps: ternyata bisa beribadah itu rezeki lho.

Okay, setelah kita ngobrol-ngobrol sama Resepsionisnya yang asyik (mungkin karena udah sering bertemu foreigner) dan ngobrol juga dengan beberapa turis yang lagi ngariung di Lobby (bentuk lobby-nya kayak ngampar gitu aja), kita direkomendasikan untuk ke Kiyomizu Dera dulu yang ternyata tidak begitu jauh dari Guesthouse. Agar dapat menikmati atmosfir Kyoto, kami memilih untuk berjalan kaki dari Guesthouse menuju Kiyomizu Dera. Lumayan jauh, sih, jalan kaki 2,5 km, tapi untungnya kami rame-rame jadi nggak kerasa capek. Kalaupun capek atau lapar, di sepanjang perjalanan kami menuju Kiyomizu Dera kami menemukan banyak Streetfood yang enak-enak banget! Ada mochi isi kacang merah, kue kacang hijau, kue lidah kucing, sotong bakar, apalagi ya, banyak banget kayaknya yang dicoba. Dan saya pikir makanan Jepang itu hambar-hambar, tapi ternyata enggak lho, sama tasty-nya dengan jajanan pinggir jalan di Bandung. Ibaratnya, bila Osaka itu adalah Bandung "kota", maka Kyoto adalah Bandung "atas dikit" seperti wilayah Dago atau Setiabudi yang banyak camilannya itu, hahaha.

Nah, begitu sampai di Kiyomizu Dera, ramenya udah kayak pasar. Mungkin karena kami berkunjungnya pas hari Sabtu, jadi rame banget. Harga tiket masuknya juga termasuk murah, hanya dengan 300 yen atau setara 30.000 rupiah kita sudah bisa menikmati pemandangan yang indah disini.

Background-nya nggak asik bangetlah. Pada orang selfie aja isinya~

Tapi tidak menutupi scenery disana, sih, tetap kece sekali~ Salutnya, walaupun pengunjungnya membludak, tetapi lingkungan Kiyomizu Dera tetap terawat dan terjaga kebersihannya. Kiyomizu Dera terkenal dengan The Hanging Veranda-nya, yaitu beranda yang dibangun di atas bukit yang disokong menggunakan konstruksi kayu. Bila dilihat dari jauh memang kece badai pemandangannya. Sayangnya saya tidak menyimpan foto berandanya dari jauh.

Tiket versus Aktual


Semacam kumpulan harapan yang ditulis di balok kayu. Kepengen nulis juga, sih. Tapi mahal sekali nulis 1000 yen :(

Ada beberapa ritual percayaan juga yang dilakukan di Kiyomizu Dera ini. Salah satunya adalah menulis harapan di balok kayu seperti foto di atas. Boleh juga, sih, buat lucu-lucuan. Tetapi berhubung harganya mahal, jadi saya hanya baca-bacain aja satu-satu harapan apa yang pernah ditulis pengunjung, hehehe. Terserah kalian, ya, mau mencoba atau tidak. Kalau bagi saya sendiri, menontonnya saja sudah sangat menarik.

The Hanging Veranda 



Kenapa, sih, Wel, lo ngeliat ke arah HP terus? By the way please stay focused to the background.

Setelah puas berkeliling Kiyomizu Dera yang cantik ini, kami pulang ke Guesthouse dengan wajah riang gembira. Kelelahan kami jalan jauh dibayar dengan semangkuk Indomie yang dimasak dengan kebahagiaan. Hahaha. Diulang, semangkuk Indomie yang dimasak karena berhemat sudah terlalu banyak jajan Streetfood :))))

Oh iya. Saran saya, bila jalan-jalan ke Jepang, pakailah sepatu yang sangat nyaman untuk meminimalisir rasa lelah akibat banyak berjalan kaki. Bisa pakai walking shoes atau running shoes. Kalau saya kemarin pakai New Balance 947 berbahan kulit balik jadi sekaligus bisa menahan dingin juga. Trust me, it works! Selama di Jepang betis saya nggak berkonde-konde amat. Footgear penting, melebihi pentingnya style dengan pakaian dingin! :))))


Cheers,
Kodil

Thursday, February 1, 2018

Traveling with Baby: Say Yes To Catering MPASI

Ribet!

Itu yang sudah pasti ada di pikiran para emak. Apalagi anaknya belum setahun, belum bisa makan nasi atau bisanya makan nasi lembek, belum bisa gulgar, endebra endebre banyak banget disclaimer nya kalau buat bayi belum setahun tuh! Haha. Pasti deh yang ada di pikiran kita adalah bawa-bawa rice cooker dan masak di hotel. Gila, ribet banget nggak kebayang.

Terus pas lagi tenggelam di antara pertanyaan ribet itu, ternyata sepupu saya ada yang abis jalan-jalan ke Malang juga dan dia cerita kalo dia menemukan solusi jitu anti riweuh emak-emak: catering MPASI. Waini.

Jadi beberapa waktu sebelum berangkat saya dikasih taju sama si Hafsah untuk cobain pake catering MPASI daripada masak ribet gitu. Kebetulan banget sebulan sebelum saya ke Malang, Hafsah yang ke Malang. Nah, karena itinerary kami bakal padat banget, okay juga nih kalau dicoba. Saya direkomendasikan untuk nyobain Little Box Catering.

Saya, sih, bukan tipe emak-emak yang sangat sangat steril gitu, ya, buat anak. Maksudnya, selama ada pihak lain yang bisa mem-provide kebutuhan anak saya dan standar kebersihan dan gizinya sesuai, itu nggak masalah banget. Malah yang ada kita terbantu dengan fasilitas ini. Nah pas banget nih sama Little Box Catering. Selain menunya MPASI rumahan yang menggunakan bahan-bahan organik, penyusunan menunya juga dilakukan dengan ahli gizi. Jadi saya nggak khawatir sama kecukupan gizi Zaid selama jalan-jalan kemarin. Saya juga bukan ahli gizi, sih, hehehe, tapi setidaknya kita para emak inilah yang mengatur sumber gizi anak setiap hari, jadi mau nggak mau otodidak belajar masalah gizi dong pastinya.

Menu yang ditawarkan oleh Little Box dibagi menjadi beberapa bagian. Ada Baby Puree (6+), Baby Meals (8+), Toddy Meals (12+), dan Kiddy Meals (18+). Untuk yang paket Baby Puree dan Baby Meals itu bentuknya bubur dan no gulgar ya, dan untuk paket Toddy Meals dan Kiddy Meals bentuknya nasi dan dengan gulgar. Kemarin Zaid pilih menunya kombinasi paket Baby Meals dan Toddy Meals.

Kenapa Zaid dikasih Toddy Meals yang sudah ada gulgarnya?
Pertama, karena Zaid saat ke Malang itu udah 11 bulan jadi ya udahlah ya santai aja, toh less sugar less salt dan saya juga bukan team emak-emak yang saklek anti gulgar sebelum setahun, jadi, lanjut...
Kedua, karena Zaid sudah makan nasi lembek sejak usia 10 bulan. Ini anak kalau dikasih bubur tuh dilepeh, sis! Nah daripada nafsu makannya hilang pas lagi jalan-jalan, ya sudah kita pilihkan yang minim resiko aja, ya.

Berikut ini adalah rincian menu yang saya pesankan untuk Zaid:
Kamis, 28 September 2017
- Nasi putih lembek
- Tempe bacem - enak banget, saya yang nggak suka baceman aja ikut nyomotin dikit-dikit :))
- Sup iga sayur- enak banget, Zaid sampe mangap melulu minta disuapin. anyway iganya kayak dibuat abon gitu jadi sudah hancur dan melebur bersama kuah. 
- Bola-bola coklat - enak banget ini... cuma karena Zaid masih di bawah 12 bulan jadi konsumsi gula berlebihan, meises, dan sejenisnya ya saya batasi dulu deh.
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 54.000,00)

Jumat, 29 September 2017
- Nasi putih lembek
- Udang mayonese - karena Zaid ada riwayat alergi udang, jadi diganti dengan ayam mayonese deh. Enak juga, tapi saya nggak se-impressed kemarin wakakakak. Reaksi Zaid juga nggak seheboh kemarin.
- Sapo tahu sutra - nah ini penyelamat que banget lah! Makan pake ini hap hap hap cepet banget nyuapinnya.
- Silky pudding - like any other silky pudding~~ biasa aja tapi karena teksturnya lucu, jadilah anak eike doyan. Kasih deh~
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 59.000,00)

Sabtu, 30 September 2017
- Nasi teri medan - hambar, Seus... tapi saya lihat tekstur ikan terinya sangat jelas. Zaid suka banget menu ini.
- Sup bihun daging - enak bingitsss.
- Banana Berry Yoghurt - nah kirain Zaid nggak suka asem kan. Yaudah iseng aja dicoel ke mulutnya tanpa berharap dia bakal makan. Apa yang terjadi? MINTA LAGI DONG HAHAHAHA. Good job anaknya ibu!
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 40.000,00)

Oh iya menu makannya terdiri dari 2 menu makan besar dan 1 snack yang diantar di antara pukul 11.00 - 12.00, pas banget sama jam makan siang anak. Kalau buibu pada buru-buru, buibu bisa jemput langsung ke gerai Little Box di Jalan Semeru no. 60 Malang mulai jam 9 pagi, kayak kemarin pas hari ketiga mau ke Batu jam 9 pagi, nah kita mampir dulu deh ke gerainya. Semuanya dalam porsi yang cukup besar untuk ukuran bayi, jadi para mamah nggak perlu takut porsinya kurang. 

Masalah rasa nggak usah ditanya, deh, enak banget! Serius, enak banget. Meskipun saya tahu itu less gulgar ya, tetep enak banget ya ampun. Tapi sayang saya nggak sempat ambil foto untuk masing-masing menu karena lagi ribet banget pegangin bayi, hehehe. Atau Zaidnya sudah keburu "kabita" ngeliat menu Little Box jadi harus buru-buru disuapin. Beneran, deh. Zaid tuh ngeliat menu Little Box matanya langsung nanar dan mangap minta disuapin. *jadi minder sama masakan sendiri*.

Dari semua pilihan menu, nggak ada yang nggak Zaid doyan. Doyan semua. Tadinya saya takut banget Zaid nggak bisa beradaptasi dengan masakan selain masakan Ibunya. Ternyata saya salah dan ngerasa lega banget pas jalan-jalan kemarin. Kalau habis jalan-jalan anak-anak tuh kurus gitu, ya, Zaid mah malah jadi tambah gemukan. Yaaa, walaupun di hari terakhir jalan-jalan Zaid demam karena kecapekan, tapi Alhamdulillah nafsu makannya nggak hilang. Mungkin karena masih kebayang-bayang makanannya Little Box kali ya, hehehe.

Kedepannya, mungkin kalau ada rencana jalan-jalan sambil ngajak bayi ke kota besar di Indonesia, kita bisa menjadikan catering MPASI sebagai alternatif makanan untuk mereka. Tapi jangan lupa untuk lakukan assessment terlebih dahulu ya, apakah catering MPASI yang para mamah pilih sudah menjawab kebutuhan para mamah atau belum.

Ps: teman, adakah yang punya info catering MPASI di Bandung dan Bali? Share ya!


Cheers

Dilla