Tuesday, March 26, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 4] Last Day in Kyoto; Fushimi Inari Shrine, Shinkansen and Rush Tokyo

Assalamu’alaykum warohmatullah...

Enam belas Maret dua ribu lima belas.
Hari ini, yang merupakan hari terakhir kami di Kyoto, merupakan waktunya kami mengunjungi Fushimi Inari Shrine. Selain sarat nilai budaya Jepang yang sangat kental, susunan Torii di sepanjang kuil ini begitu sedap untuk dipandang dan diabadikan. Sebenarnya mengunjungi Fushimi Inari Shrine bukan itinerary utama kami alias opsional, tetapi mumpung lagi di Kyoto dan masih punya tenaga lebih, saya dan Unad menyempatkan untuk mampir ke kuil tersebut sementara para lelaki memilih untuk stay di hotel sampai dengan keberangkatan ke Tokyo nanti siang.

Sekitar pukul delapan kami berangkat dari hostel. Fushimi Inari Shrine tidak jauh dari tempat kami menginap, Khaosan Kyoto Guesthouse, hanya berjarak 5 stasiun saja bila ditempuh dengan kereta. Untuk mencapai Fushimi Inari Shrine, kami memilih naik Keihan Main Line yang sudah termasuk ke dalam coverage Kansai Thru Pass yang kami beli saat landing di Osaka.

Mendung... pake kamera iPhone...


Mandatory wefie dulu sama Unad kesayangan :DD
















Pukul dua belas kami sudah tiba kembali di hotel untuk check out dan menuju Stasiun Kyoto untuk naik Shinkansen menuju Tokyo.

Naik Shinkansen. Repeat, naik Shinkansen.

Yeay akhirnya nyobain naik Shinkansen!!! *norak*

Tiba di Stasiun Kyoto, kami langsung antre tukar JR Pass di JR Tourism Center sekaligus book seat Hamanasu Sleeping Car untuk ke Sapporo nanti, Masya Allah, stasiun Kyoto ini bagus sekali… juga ramai tapi nggak semrawut.




Hari ini kami cukup santai… pace kami tidak secepat kemarin…
Kami sampai di Stasiun Tokyo sudah petang dan disambut dengan hujan yang cukup deras.
Sejujurnya kami agak kaget begitu tiba di Tokyo. Gila, ritme penduduknya cepat sekali! sangat jauh berbeda dengan ritme penduduk di Osaka dan Kyoto yang cenderung santai… jalan juga nggak seradak seruduk… jujur saja hal ini sempat membuat saya “ilfil” dengan Tokyo. Tapi ya sebenarnya inilah potret negara Jepang yang kita kenal di luar sana, jadi kita nikmati sajalah…

Rencana kami untuk sightseeing di Asakusa jadi gagal karena hujan belum berhenti juga hingga malam hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar hotel, kebetulan ada Yoshinoya dan kami langsung melipir (jujur, waktu itu kami belum tahu kalau Yoshinoya Jepang tidak halal, maafkan ya Allah). Oh iya, selama di Tokyo kami menginap di Khaosan World Asakusa Hostel yang masih rekanan dengan tempat menginap kami di Kyoto. Namun sejujurnya kami lebih suka dengan vibe hostel kami yang di Kyoto karena lebih bersih walaupun common room-nya lebih kecil.

Maafin Ya Allah, nggak tau kalau ini tuh nggak halal :")





Kami menutup hari ini dengan check in di hostel, selonjoran, dan beristirahat. Tiba-tiba pukul 9 malam Welly Whatsapp saya, "Dil, laper, nggak? Belanja yuk, terus kita masak deh di common room.", wah saya yang masih merasa lapar langsung mengiyakan dong, sementara Unad yang udah kecapekan memilih untuk tidur. Hehehe. Saya langsung ngeloyor keluar pakai piyama dan jilbab instan sama Welly, Aboy, dan Aray untuk belanja di supermarket di sekitar Asakusa. Kami berbelanja di supermarket yang buka 24 jam yang ternyata masih ramai aja disini... dan adalah hal yang umum disini untuk belanja tengah malam karena harga produknya jadi lebih murah. Iya, se-fresh itu sayur, buah, ikan-ikanan, dan daging-dagingan yang dijual di Jepang hingga bela-belain diskon di tengah malam dan besoknya udah ganti produk lagi. The best!

Pajamas Style pas belanja ke supermarket...

Belanjaan kita-kita!

Balik dari supermarket kami langsung masak (((semangat 45 banget karena ternyata masih lapaaarrr))) di common room hostel yang kebetulan lagi sepi. Seru banget ternyata main masak-masakan sama pria-pria ini :D main masak-masakan ini semacam self healing untuk saya pribadi karena sejujurnya hari ini lumayan kecewa dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasi.

Kami masak apa saja? Masak nasi, yes kita beli Japonica Rice yang murah dan enaaak banget. Terus masak telur setengah matang. Entah kenapa saya merasa telur di Jepang ini kok bagus-bagus ya, kualitas paten lah. Padahal bukan telur ayam kampung, tapi terasa sangat fresh dan kuning telurnya itu, lho... beda deh, sulit dijelaskan :D. kemudian kami beli fresh sashimi 500 gram harganya sekitar 500 yen an atau 60 ribu... murah banget kan? Kemudian beli unagi dan cumi bumbu teriyaki yang ternyata isinya nasi, jyah ketipu... kirain isinya cumi juga, hehehe. Tapi tetap enak rasanya.


Yang di sebelah kiri dan kanan itu cumi teriyaki isi nasi :D

Oishiii...

Jyaaah kena tipu dia :))))

Pukul 1 malam saya pamit masuk kamar. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak karena perut kenyang. Saatnya beristirahat mempersiapkan tenaga buat ke Lake Kawaguchiko!

Wassalamu'alaykum warohmatullah!

Tuesday, March 19, 2019

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 3] another Kyoto; Sagano Scenic Railway and Apprentice Geisha

Assalamu'alaykum Warohmatullah!

Lima belas maret dua ribu lima belas. Pas bangun tidur kok rasanya nggak enak banget ya. Kok dinginnya menusuk banget ya. Ternyata eh ternyata pagi itu Kyoto bersuhu 1 derajat aja. Musim semi macam apa ini?
Eaaa halu sok sok an musim semi, musim peralihan kali, Bu... :))

Hari itu rencananya kami akan ke Arashiyama Bamboo Forest dilanjutkan dengan naik Sagano Scenic Railway. Kalau Arashiyama Bamboo Forest mah emang mainstream banget lah di kalangan traveler, istilahnya nggak ke Kyoto kalau nggak mampir ke Arashiyama. Sebenarnya yang bikin menarik Arashiyama ini bukan hutan bambunya, tapi perjalanan dari Stasiun Shin-arashiyama menuju hutan bambunya itu...yang penuh dengan streetfood Jepang! *Lagi-lagi tentang makanan :)) berikut ini saya share beberapa streetfood yang kami temukan dan nggak ada yang failed semuanya endol!

Ini tuh semacam kulit ayam bumbu teriyaki. Enak banget!

Kalau ini ikan mackarel bumbu teriyaki dengan taburan bawang goreng. Enak juga ya Allaah.

Kalau ini Takoyaki. Standar sih cuma seneng aja ngeliat penjualnya bolak-balikin Tako-nya. Lihai!


Jadi di sekitar pintu masuk Arashiyama itu ada sebuah toko yang jual BonCabe! Iya, BonCabe, tapi yang ini jauh lebih enak. Sebenarnya saya nggak sengaja nemuin toko BonCabe ini. Awalnya karena tertarik nyobain testernya di depan toko, yaa namanya juga budget traveling ya, pasti mata kita ijo melihat tester gratisan. Testernya hanya nasi kepal dikasih BonCabe-nya mereka. Saya kira rasanya standar, hanya nasi putih pedas-pedas ala ala Jepang, pahit tanpa rasa yang otentik gitu, nggak taunyaaaaa aaaaaaaa enak banget! Parah! Jadi kayaknya itu bubuk abon cabe sudah diolah dengan bumbu-bumbu khas yang entah apa isinya - dan juga dicampur dengan wijen sangrai yang rasanya alamaaak enaknya, udah deh. Bahasa zaman sekarangnya tuh kelar perut lo! Hahaha. Saking enaknya, saya dan Aboy nyetok 3 bungkus untuk dimakan dengan nasi hangat di hostel nanti dan tentunya untuk oleh-oleh dibawa pulang. :) Tapi suatu saat saya diberi kesempatan untuk ke Kyoto lagi, saya akan mengunjungi toko yang sama untuk restock abon cabe amboi itu hehehe.

Ini lho tester yang saya maksud di atas :)) abaikan kerta hitung-hitungan itinerary itu ya :))

Tester produk yang lainnya. Ini juga enak banget!

Kemasan BonCabe-nya cute banget...

Setelah selesai belanja BonCabe, kami tawaf di dalam kawasan Arashiyama Bamboo Forest dan mengakhiri perjalanan kami di Stasiun Torokko Saga untuk naik Sagano Scenic Railway atau yang juga dikenal sebagai Sagano Torokko. Disini kami akan diajak menyusuri Hoguzawa River menggunakan old style train yang pastinya masih berbahan bakar diesel. Sebenarnya waktu yang tepat kalau kesini adalah musim semi atau musim gugur karena kita akan dimanjakan dengan pemandangan sakura atau pohom plum yang berwarna warni di sepanjang pinggiran sungai, tapi nggak ada salahnya juga kok kalau pas ke Jepang di musim peralihan untuk mencobanya, karena pemandangan sungai dan perbukitannya juga udah keren banget.

Kereta yang bakal dinaikin. Sumber: www.japan-guide.com

Pemandangannya :")

Gimana nggak jadi ngantuk ya kalau keretanya terbuka seperti ini hahahaha.

Ini merupakan itinerary yang wajib bagi kami karena kami super penasaran setelah melihat foto-foto di blog-blog orang kok kayaknya kalau kesini tuh semacam "klimaks"nya Arashiyama Bamboo Forest, karena cantiiiik banget. Dan asli, Masya Allaah, aslinya memang luar biasa bagusnya. Lelah jalan jauh-jauh kesini benar-benar terbayar... udah gitu selama perjalanan kita ditemani angin sepoi sepoi di kereta.. alamak, pengen balik lagi rasanya kalau ada rejeki. Aamiin!

Keretanya... mohon maaf fotonya nggak proper, lagi rame banget disini :")
Pemandangan Hoguzawa River di musim peralihan.
Kami turun di Stasiun Torokko Kameoka untuk bisa naik JR Sagano Line. Tinggal jalan sebentar ke Stasiun Umahori. Saat jalan kaki ke Umahori kami melewati sawah dan ladang milik penduduk. Pemandangannya cukup breathtaking dan nggak ada salahnya juga foto-foto sedikit disini. Luv banget dapet pemandangan cantik gratis kayak gini.

Pukul lima waktu setempat, kami menuju itinerary selanjutnya yaitu Gion Walk. Like a mainstream said... ya gitu aja sih liat perempuan-perempuan ber-yukata. Sebenarnya kami berharap buat ketemu Geisha tapi sepertinya sedang tidak beruntung. Nah... Hint-nya pas kesini itu bukan Gion Walk-nya tapiii nonton Appretiation of Apprentice Geisha yang jadi bagian sari Hanatouro Festival. Kalau kamu ke Kyoto pas pertengahan Maret, wajib banget buat ikut minimal 1 dari sekian banyak rangkaian festivalnya. Biasanya festival di Kyoto yang berhubungan dengan Spring adalah menghidupkan lampu temple mereka sehingga ketika difoto di malam hari jadi cuantik pol. Nah kalau Hanatouro rangkaiannya berupa dihidupkannya lampu lentera di sepanjang Maruyama Park dan kalau kamu beruntung bisa nonton Apprentice Geisha Show tadiii. Dari kawasan Gion ke Maruyama Park tinggal jalan kaki sedikit aja kok, worth it banget deh. Lebih lengkapnya bisa dibaca disini ya: klik link ini

Cantiknya~

Sempetin makan lagiii. entah ini apa namanya, tapi enak dan ini tumbuhan ya bukan daging-dagingan :)


Dan Alhamdulillaah kami kebagian nonton Geisha-nya. Bener-bener cantik banget penampilannya.
Hari ini melelahkan, tapi semua yang dilihat bisa membayarnya. :) ah, Kyoto memang surganya pemandangan indah. Semoga Allah mengizinkan saya dan keluarga ke Kyoto lagi, aamiin!

Wassalamu'alaykum warohmatullah...

Friday, February 23, 2018

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 2] Kyoto; Kiyomizu Dera and The Hanging Veranda

Empat belas Maret. Setelah kami istirahat dan sightseeing ke beberapa must visit place-nya Osaka, keesokan harinya kami check out dan bertolak ke Kyoto. Walaupun sudah masuk musim peralihan, ternyata suhu Osaka masih stabil di 5 derajat celcius pagi ini, jadi kami banyak memindahkan pakaian dingin dari koper ke tas ransel. Kami masih bisa toleransi suhu tersebut, namun angin di Osaka cukup kencang dan lumayan menusuk sehingga turis-turis negara tropis seperti kamu harus lebih prepare. Hehehe. 

Kami masih menggunakan fasilitas Kansai Thru Pass untuk menempuh perjalanan dari Osaka ke Kyoto. Kalau lihat di Google Maps, sebenarnya jarak Osaka - Kyoto ini seperti Jakarta - Bogor, hanya ditempuh selama 1 jam-an naik kereta commuter. Bedanya hanya di kepadatan commuter-nya saja, sih, dimana commuter Osaka - Kyoto itu lengang banget, hahaha. Saking lengangnya, satu gerbong bisa kita gunakan bebas, karena selama perjalanan dari Osaka ke Kyoto isinya cuma kita doang. Mungkin commuter yang kami gunakan ini bukan jalur favorit, ya, makanya jadi sepi begitu.

Karena gembolan kami cukup banyak, maka kami kepikiran untuk langsung menuju tempat menginap untuk titip koper. Barangkali aja ada kebaikan dari Resepsionis Khaosan Kyoto Guesthouse, hehehe. Jadi dari Backpacker Hotel, kami berjalan menuju Stasiun Dobutsen-Mae untuk naik Sakaisuji Line menuju Stasiun Kita Senri. Dari Stasiun Kita Senri kita nggak pindah kereta karena kereta ini akan melaju sebagai Hankyu Senri Line menuju Kita Senri kemudian turun di Stasiun Awaji. Di Stasiun Awaji baru deh kita ganti kereta menjadi Hankyu Kyoto Line kemudian turun di Stasiun Awaramachi. Tinggal jalan sedikit saja dari Stasiun Awaramachi, kita sudah sampai di Khaosan Kyoto Guesthouse. By the way, maaf ya kalau penjelasan kereta mengkereta ini terlihat sangatlah rumit hehe. Tapi kalau teman-teman sudah terbiasa baca penjelasan transportasi di Google Maps pasti paham maksud saya ini  :D

Alhamdulillah, ya, rejeki anak sholihah kayaknya, kami diizinkan untuk titip koper di Guesthouse! Dari awal booking penginapan di Khaosan Kyoto Guesthouse memang saya sudah punya firasat baik dengan tempat ini. Dan, nilainya di hostelworld.com memang sudah terbukti dari hari pertama sampai disini. Begitu masuk, kami diizinkan untuk check in duluan walaupun belum waktunya check in karena hari itu masih pagi, kalau tidak salah masih pukul 10 pagi. Setelah itu kami juga diizinkan untuk meletakkan koper di ruang khusus titip koper (they even consider it for budget traveler like us, wow). Insya Allah nitip koper disitu aman selama sudah dilengkapi dengan kunci kita sendiri dan tagging card yang disediakan oleh pihak Guesthouse. Bahkan para lelaki pun diizinkan untuk shalat menggunakan salah satu ruang kosong di Guesthouse!!! Cool sekali. Jadi ingat pengalaman menginap di Sunshine Bedz KL, hostelnya juga bagus banget, tapi sayang kita tidak boleh beribadah di ruang kosong, even di space kosong kamar kita sendiri. Sehingga kalau mau shalat ya berarti kita shalat di tempat tidur sambil duduk karena bentuk tempat tidurnya bunkbed jadi tidak bisa sambil berdiri. Atau kita minta izin ke teman sekamar yang lain untuk beribadah. Untungnya waktu itu saya punya temen sekamar bule yang baik banget yang ngizinin untuk beribadah di space kamar yang kosong.
Ps: ternyata bisa beribadah itu rezeki lho.

Okay, setelah kita ngobrol-ngobrol sama Resepsionisnya yang asyik (mungkin karena udah sering bertemu foreigner) dan ngobrol juga dengan beberapa turis yang lagi ngariung di Lobby (bentuk lobby-nya kayak ngampar gitu aja), kita direkomendasikan untuk ke Kiyomizu Dera dulu yang ternyata tidak begitu jauh dari Guesthouse. Agar dapat menikmati atmosfir Kyoto, kami memilih untuk berjalan kaki dari Guesthouse menuju Kiyomizu Dera. Lumayan jauh, sih, jalan kaki 2,5 km, tapi untungnya kami rame-rame jadi nggak kerasa capek. Kalaupun capek atau lapar, di sepanjang perjalanan kami menuju Kiyomizu Dera kami menemukan banyak Streetfood yang enak-enak banget! Ada mochi isi kacang merah, kue kacang hijau, kue lidah kucing, sotong bakar, apalagi ya, banyak banget kayaknya yang dicoba. Dan saya pikir makanan Jepang itu hambar-hambar, tapi ternyata enggak lho, sama tasty-nya dengan jajanan pinggir jalan di Bandung. Ibaratnya, bila Osaka itu adalah Bandung "kota", maka Kyoto adalah Bandung "atas dikit" seperti wilayah Dago atau Setiabudi yang banyak camilannya itu, hahaha.

Nah, begitu sampai di Kiyomizu Dera, ramenya udah kayak pasar. Mungkin karena kami berkunjungnya pas hari Sabtu, jadi rame banget. Harga tiket masuknya juga termasuk murah, hanya dengan 300 yen atau setara 30.000 rupiah kita sudah bisa menikmati pemandangan yang indah disini.

Background-nya nggak asik bangetlah. Pada orang selfie aja isinya~

Tapi tidak menutupi scenery disana, sih, tetap kece sekali~ Salutnya, walaupun pengunjungnya membludak, tetapi lingkungan Kiyomizu Dera tetap terawat dan terjaga kebersihannya. Kiyomizu Dera terkenal dengan The Hanging Veranda-nya, yaitu beranda yang dibangun di atas bukit yang disokong menggunakan konstruksi kayu. Bila dilihat dari jauh memang kece badai pemandangannya. Sayangnya saya tidak menyimpan foto berandanya dari jauh.

Tiket versus Aktual


Semacam kumpulan harapan yang ditulis di balok kayu. Kepengen nulis juga, sih. Tapi mahal sekali nulis 1000 yen :(

Ada beberapa ritual percayaan juga yang dilakukan di Kiyomizu Dera ini. Salah satunya adalah menulis harapan di balok kayu seperti foto di atas. Boleh juga, sih, buat lucu-lucuan. Tetapi berhubung harganya mahal, jadi saya hanya baca-bacain aja satu-satu harapan apa yang pernah ditulis pengunjung, hehehe. Terserah kalian, ya, mau mencoba atau tidak. Kalau bagi saya sendiri, menontonnya saja sudah sangat menarik.

The Hanging Veranda 



Kenapa, sih, Wel, lo ngeliat ke arah HP terus? By the way please stay focused to the background.

Setelah puas berkeliling Kiyomizu Dera yang cantik ini, kami pulang ke Guesthouse dengan wajah riang gembira. Kelelahan kami jalan jauh dibayar dengan semangkuk Indomie yang dimasak dengan kebahagiaan. Hahaha. Diulang, semangkuk Indomie yang dimasak karena berhemat sudah terlalu banyak jajan Streetfood :))))

Oh iya. Saran saya, bila jalan-jalan ke Jepang, pakailah sepatu yang sangat nyaman untuk meminimalisir rasa lelah akibat banyak berjalan kaki. Bisa pakai walking shoes atau running shoes. Kalau saya kemarin pakai New Balance 947 berbahan kulit balik jadi sekaligus bisa menahan dingin juga. Trust me, it works! Selama di Jepang betis saya nggak berkonde-konde amat. Footgear penting, melebihi pentingnya style dengan pakaian dingin! :))))


Cheers,
Kodil

Thursday, February 1, 2018

Traveling with Baby: Say Yes To Catering MPASI

Ribet!

Itu yang sudah pasti ada di pikiran para emak. Apalagi anaknya belum setahun, belum bisa makan nasi atau bisanya makan nasi lembek, belum bisa gulgar, endebra endebre banyak banget disclaimer nya kalau buat bayi belum setahun tuh! Haha. Pasti deh yang ada di pikiran kita adalah bawa-bawa rice cooker dan masak di hotel. Gila, ribet banget nggak kebayang.

Terus pas lagi tenggelam di antara pertanyaan ribet itu, ternyata sepupu saya ada yang abis jalan-jalan ke Malang juga dan dia cerita kalo dia menemukan solusi jitu anti riweuh emak-emak: catering MPASI. Waini.

Jadi beberapa waktu sebelum berangkat saya dikasih taju sama si Hafsah untuk cobain pake catering MPASI daripada masak ribet gitu. Kebetulan banget sebulan sebelum saya ke Malang, Hafsah yang ke Malang. Nah, karena itinerary kami bakal padat banget, okay juga nih kalau dicoba. Saya direkomendasikan untuk nyobain Little Box Catering.

Saya, sih, bukan tipe emak-emak yang sangat sangat steril gitu, ya, buat anak. Maksudnya, selama ada pihak lain yang bisa mem-provide kebutuhan anak saya dan standar kebersihan dan gizinya sesuai, itu nggak masalah banget. Malah yang ada kita terbantu dengan fasilitas ini. Nah pas banget nih sama Little Box Catering. Selain menunya MPASI rumahan yang menggunakan bahan-bahan organik, penyusunan menunya juga dilakukan dengan ahli gizi. Jadi saya nggak khawatir sama kecukupan gizi Zaid selama jalan-jalan kemarin. Saya juga bukan ahli gizi, sih, hehehe, tapi setidaknya kita para emak inilah yang mengatur sumber gizi anak setiap hari, jadi mau nggak mau otodidak belajar masalah gizi dong pastinya.

Menu yang ditawarkan oleh Little Box dibagi menjadi beberapa bagian. Ada Baby Puree (6+), Baby Meals (8+), Toddy Meals (12+), dan Kiddy Meals (18+). Untuk yang paket Baby Puree dan Baby Meals itu bentuknya bubur dan no gulgar ya, dan untuk paket Toddy Meals dan Kiddy Meals bentuknya nasi dan dengan gulgar. Kemarin Zaid pilih menunya kombinasi paket Baby Meals dan Toddy Meals.

Kenapa Zaid dikasih Toddy Meals yang sudah ada gulgarnya?
Pertama, karena Zaid saat ke Malang itu udah 11 bulan jadi ya udahlah ya santai aja, toh less sugar less salt dan saya juga bukan team emak-emak yang saklek anti gulgar sebelum setahun, jadi, lanjut...
Kedua, karena Zaid sudah makan nasi lembek sejak usia 10 bulan. Ini anak kalau dikasih bubur tuh dilepeh, sis! Nah daripada nafsu makannya hilang pas lagi jalan-jalan, ya sudah kita pilihkan yang minim resiko aja, ya.

Berikut ini adalah rincian menu yang saya pesankan untuk Zaid:
Kamis, 28 September 2017
- Nasi putih lembek
- Tempe bacem - enak banget, saya yang nggak suka baceman aja ikut nyomotin dikit-dikit :))
- Sup iga sayur- enak banget, Zaid sampe mangap melulu minta disuapin. anyway iganya kayak dibuat abon gitu jadi sudah hancur dan melebur bersama kuah. 
- Bola-bola coklat - enak banget ini... cuma karena Zaid masih di bawah 12 bulan jadi konsumsi gula berlebihan, meises, dan sejenisnya ya saya batasi dulu deh.
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 54.000,00)

Jumat, 29 September 2017
- Nasi putih lembek
- Udang mayonese - karena Zaid ada riwayat alergi udang, jadi diganti dengan ayam mayonese deh. Enak juga, tapi saya nggak se-impressed kemarin wakakakak. Reaksi Zaid juga nggak seheboh kemarin.
- Sapo tahu sutra - nah ini penyelamat que banget lah! Makan pake ini hap hap hap cepet banget nyuapinnya.
- Silky pudding - like any other silky pudding~~ biasa aja tapi karena teksturnya lucu, jadilah anak eike doyan. Kasih deh~
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 59.000,00)

Sabtu, 30 September 2017
- Nasi teri medan - hambar, Seus... tapi saya lihat tekstur ikan terinya sangat jelas. Zaid suka banget menu ini.
- Sup bihun daging - enak bingitsss.
- Banana Berry Yoghurt - nah kirain Zaid nggak suka asem kan. Yaudah iseng aja dicoel ke mulutnya tanpa berharap dia bakal makan. Apa yang terjadi? MINTA LAGI DONG HAHAHAHA. Good job anaknya ibu!
Full pax (2 kali makan plus snack: Rp. 40.000,00)

Oh iya menu makannya terdiri dari 2 menu makan besar dan 1 snack yang diantar di antara pukul 11.00 - 12.00, pas banget sama jam makan siang anak. Kalau buibu pada buru-buru, buibu bisa jemput langsung ke gerai Little Box di Jalan Semeru no. 60 Malang mulai jam 9 pagi, kayak kemarin pas hari ketiga mau ke Batu jam 9 pagi, nah kita mampir dulu deh ke gerainya. Semuanya dalam porsi yang cukup besar untuk ukuran bayi, jadi para mamah nggak perlu takut porsinya kurang. 

Masalah rasa nggak usah ditanya, deh, enak banget! Serius, enak banget. Meskipun saya tahu itu less gulgar ya, tetep enak banget ya ampun. Tapi sayang saya nggak sempat ambil foto untuk masing-masing menu karena lagi ribet banget pegangin bayi, hehehe. Atau Zaidnya sudah keburu "kabita" ngeliat menu Little Box jadi harus buru-buru disuapin. Beneran, deh. Zaid tuh ngeliat menu Little Box matanya langsung nanar dan mangap minta disuapin. *jadi minder sama masakan sendiri*.

Dari semua pilihan menu, nggak ada yang nggak Zaid doyan. Doyan semua. Tadinya saya takut banget Zaid nggak bisa beradaptasi dengan masakan selain masakan Ibunya. Ternyata saya salah dan ngerasa lega banget pas jalan-jalan kemarin. Kalau habis jalan-jalan anak-anak tuh kurus gitu, ya, Zaid mah malah jadi tambah gemukan. Yaaa, walaupun di hari terakhir jalan-jalan Zaid demam karena kecapekan, tapi Alhamdulillah nafsu makannya nggak hilang. Mungkin karena masih kebayang-bayang makanannya Little Box kali ya, hehehe.

Kedepannya, mungkin kalau ada rencana jalan-jalan sambil ngajak bayi ke kota besar di Indonesia, kita bisa menjadikan catering MPASI sebagai alternatif makanan untuk mereka. Tapi jangan lupa untuk lakukan assessment terlebih dahulu ya, apakah catering MPASI yang para mamah pilih sudah menjawab kebutuhan para mamah atau belum.

Ps: teman, adakah yang punya info catering MPASI di Bandung dan Bali? Share ya!


Cheers

Dilla

Wednesday, November 8, 2017

Kisah Menyusui Zaid

Kayaknya setiap kisah menyusui pasti drama ya, gak ada yang enggak. Sembilan dari 10 orang mamah-mamah yang cuhat-curhatan sama saya pasti berkata demikian. Maklum, setelah mendengar latar belakang kenapa ada drama kumbara dibaliknya, ternyata emang angkatan saya lahir itu lagi booming-boomingnya slogan empat sehat lima sempurna: karbohidrat, sayur mayur, lauk pauk, buah, dan yang kelima susu sebagai penyempurnanya. Dalam hal ini untuk bayi penyempurnanya adalah susu formula. Nah cucok deh kan nggak sedikit juga orang tua kita suka nyeletuk "udah, sufor dulu aja!". Plus kita-kita yang notabene mamah-mamah baru belum pede sama jumlah ASI kita sendiri dan berapa ml yang udah diminum dedek bayi. Makin cucok!

Selepas melahirkan, terkadang apa yang sudah kita rencanakan dengan matang mengenai asupan gizi bayi hancur lebur begitu saja. Ketika payudara dipijat gak keluar ASInya, terus denger pendapat eksternal siapapun orangnya, "sufor aja deh kasian bayinya haus!" Eaaa, kepedean kita luluh lantah dan ikut-ikutan khawatir akan asupan cairan bayi. Saya pun demikian, kok. Sebuah kewajaran buat seorang mamah baru. Cara mengakalinya cuma satu: knowledge. Makanya nih ya, kalau kata saya mah, para mamah jangan terlalu fokus dengan urusan lahiran. Itu mah nggak seberapa banget lah sama urusan menyusui... Serius! Hehe.

That's why beberapa Obsgyn yang concerned akan ASI bagi para calon ibu akan menyarankan ikut kelas laktasi di usia kehamilan menginjak 8 bulan. Instead of mempersiapkan keperluan materiil buat bayi, knowledge ini nggak kalah pentingnya ya. Berdasarkan pengalaman saya, justru knowledge lah persiapan yang sangat priceless nilainya karena ini menentukan masa depan bayi saya. Karena menyusui itu ilmunya jauuuuh lebih kompleks ketimbang lahiran. Trust me.

Preparation
Di usia 36 minggu, saya dan suami sudah main ke dokter laktasi. Telat sih, harusnya di usia kehamilan 32 minggu kami udah berkunjung kesana. Kami diedukasi untuk dapat sukses memberikan ASI selama 2 tahun sesuai yang tertulis di Al-Quran. Bila perlu, ajak orang tua atau orang-orang sekitar yang akan menemani kita di saat-saat pertama menjadi ibu karena merekalah yang turut menentukan sukses gagalnya menyusui.


Awareness
Ketika bayi lahir, periksa apakah ada tongue tie atau lip tie pada lidahnya dan bila ada, pastikan bahwa tongue tie itu tidak mengganggu aktivitas menyusuinya. Di hari keempat Zaid lahir, sepulang dari RS Bunda Menteng kami langsung ke RSIA Kemang untuk memeriksa tongue tie Zaid, apakah akan mengganggu proses menyusui atau tidak. Dan... Ternyata untuk case Zaid memang mengganggu. Saat baru lahir, saya perhatikan lidah Zaid memang pendek dan ketika akan melakukan perlekatan dia selalu menangis kesal karena tidak bisa menyambut puting Ibu dengan sempurna. Saya dan suami tidak kaget akan hal ini karena memang sudah diedukasi terlebih dahulu mengenai tongue tie. Beberapa orang tua memang memiliki keputusan yang berbeda-beda terkait dengan hal ini. Dan jujur saja, ini menjadi pro kontra di lingkungan orang tua. Kami pribadi memutuskan untuk melakukan insisi terhadap tongue tie Zaid dan berikhtiar mudah-mudahan setelahnya Zaid akan sukses nenen. Alhamdulillah, setelah itu proses menyusui berjalan dengan lancar. No drama anymore ketika sedang nenen. Dalam waktu 5 hari, berat badan Zaid yang sudah turun 350 gram naik 400 gram, Alhamdulillah, jadi di usianya yang kedelapan hari, berat badan Zaid melebihin BBL nya yaitu 3630 gram. Oh iya, inget ya, kuncinya sukses menyusui itu HAPPY! Karena happy akan merelease hormon prolaktin dan oksitosin yang efeknya adalah ASI ngucur.. hehe. Nggak usah dengerin yang negatif-negatif ya, positive vibes only deh kalau untuk busui.


Next knowledge: Manajemen ASIP
Buat ibu bekerja, ini adalah "target" selanjutnya. Emang bisa nyetok ASIP berkulkas kulkas? Bisa banget! Tapi bukan itu poinnya, ya, para mamah. Poinnya adalah kita-kita bisa menjaga produksi ASI selama meninggalkan dedek bayi. Cuma satu cara yang paling efektif membutuhkan istiqamah saat menjalankannya: pompa.

Kapan mulai pompa?
Banyak pendapat mengenai hal ini. Ada yang bilang sebaiknya dilakukan setelah lahiran. Ya, yang ini tujuannya untuk menaikkan produksi ASI bila ASI yang sang ibu hasilkan dirasa kurang mencukupi kebutuhan bayi. Jadi kalau anaknya kelihatan masih kehausan, bisa 2 cara yang dilakukan: direct breastfeeding teruuus maksimal 30 menit dan pastikan bayi bukan ngempeng, atau pumping saat payudara sebelahnya sedang disusui atau kalau dulu karena saya kerepotan ya saat Zaid sedang tidur.
Ada juga yang bilang sebaiknya dilakukan ketika usia bayi sudah 1 bulan, nah ini untuk yang kondisi ASI sang ibu cukup selama dedek bayi baru lahir sampai berusia 1 bulan. Karena memang saat ibu baru melahirkan itu terjadi ledakan hormon prolaktin, jadi para ibu umumnya akan mengalami payudara bengkak karena banyak memproduksi ASI.

Jeda pumping sebenarnya beragam. Tapi untuk bayi 0-3 bulan, jedanya per 2-3 jam. 4-6 bulan, jedanya 3-4 jam. Intinya sih ikutin jeda dedek bayi nenen selama kita lagi bareng sama dedek bayi. Kalau dirasa nggak sempat, misalnya di kantor gitu, main di frekuensi aja. Jika kita bekerja dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, dimana kalau lagi bareng dedek bayi kita bisa nyusuin 4 kali, berarti pumpingnya kalau bisa 3-4 kali di pukul 8, 10, 13, dan 16 menjelang pulang kantor. Saya yang bekerja dari jam 7-4 sore, pumping di jam 7, 10, 12.30, dan 15.00 dengan catatan masih pumping tengah malam hingga usia Zaid 6 bulan.
Btw ini kenapa ilmu pumpingnya lebih banyak dari yang lain-lain ya? Hehehehe. Peace ya para mamah. Sepertinya memang ilmu manajemen ASIP harus dipisah di lain halaman karena memang buanyaaaak banget ngalah-ngalahin panjangnya itinerary keliling Eropa dan Skandinavia. Serius!
Sekarang Alhamdulillah Zaid udah 15 bulan, udah makan nasi dan minum ASIP nya juga on demand, bukan dijadwalin lagi kayak pas ASIX dulu. Jadiii ibu Zaid sukses melewati drama menyusui dengan selamat! Hehe. Bagi para mamah di luar sana yang sedang berjuang menyusui buat para dedek bayinya, semangat terus ya! Dan bagi para mamah yang kepengen nanya-nanya tentang menyusui dan manajemen ASIP lebih lengkap dan detail, bisa nanya langsung di kolom komentar atau saya sendiri merekomendasikan akun Instagram @asiku.banyak. disana semacam kitab suci para busui deh, beneran! Saya sendiri akan bantu menjawab semampu saya bila ada yang bertanya langsung :)
Terima kasih dan happy breastfeeding to all great mom in the world!

Thursday, October 12, 2017

Anti-mainstream Japan Trip 2015: [Day 1] Osaka

Sembilan Maret, saya masuk kerja setengah hari karena sorenya akan berangkat ke bandara. Sebenarnya boarding time pesawat kami 20.35, tapi karena siangnya saya harus ke IALF Kuningan, makanya saya memutuskan untuk ambil cuti setengah hari, biar agak nyantai. Pukul tiga sore saya sudah kembali ke kost-an, mandi ((ini penting banget karena mungkin aja 24 jam ke depan nggak akan mandi :D))), periksa barang-barang saya untuk mastiin nggak ada yang tertinggal, dan hubungin Aboy untuk menjemput saya. Saya dijemput dengan teman trip yang juga teman kantor saya, Aboy, untuk ke rumahnya dan akan diantar dengan supir pribadinya ke bandara. Woo hoo banget ini sih buat budget traveler, secara berarti saya gak perlu keluarin budget untuk transportasi ke bandara :)) dan alhamdulillah banget semesta mendukung, tol menuju bandara nggak macet sama sekali, jadi Pasar Minggu - Bandara Soekarno Hatta kurang dari sejam saja, dan sekitar pukul 5 sore kami sudah duduk manis di Terminal 2 keberangkatan internasional.

Saya memilih untuk nggak beli bagasi untuk keberangkatan ke Jepang ini karena saya pikir toh bawaan saya nggak bakalan heboh-heboh amat hahaha. Nggak taunya ya Allah berat bangettt berat sama makanan tapinya :)))) bayangkan saja, saya dibekali rendang 1 kg, abon, sambal goreng tempe 1 kg, belum lagi perintilan cemilan lainnya hahaha. makanya saya jadi agak khawatir nih mungkin aja kan bawaan saya akan dicegat pihak imigrasi bila dibawa ke kabin.

Akhirnya setelah kita semua kumpul lengkap (saya, Aboy, Aray, Unad, Welly) dan lagi ngobrol-ngobrol, saya baru inget kalau cuma Welly yang flight nya beda sendiri. Dia akan ke Jepang dengan maskapai Garuda Indonesia dan tau kannn kalau Garuda Indonesia punya fasilitas free baggage? Nah... Makanya langsung kepikiran untuk nitip bagasi di dia dan "nembak" langsung nanya sama dia hahaha. Untungnya setelah saya rayu-rayu Welly mau dititipin bagasi, jadi ketika naik pesawat saya hanya bawa tas ransel berisi bahan makanan dan jaket tebal dan tas selempang kecil berisi dompet, handphone, powerbank, serta kartu identitas.

Menurut saya yang hampir 24 tahun tidak merasakan long flight, penerbangan ke Osaka ini merupakan salah satu yang paling melelahkan. Nggak bisa dipungkiri bila kenyamanan sangat memegang andil bila sedang dalam penerbangan panjang. Sehingga kalau kamu punya uang agak lebih, boleh juga untuk mencoba maskapai non low cost carrier atau mungkin mencicipi kelas bisnis? Tapi alhamdulillah "gejolak kawula muda" saya berhasil mengalahkan capeknya long flight, apalagi pas kelihatan pemandangan Bandara Kansai Osaka saat mau landing. Hore akhirnya menginjak negeri matahari!

Proses imigrasi berjalan dengan lancar, hampir tidak ada kesulitan yang berarti saat keluar dari bandara. Namun kami agak lama menunggu Welly padahal waktu keberangkatan kami nggak jauh berbeda. Ternyata lamanya bukan karena pesawat delay atau transitnya lama ya, tetapi karena insiden "nitip koper" saya kemarin itu. Jadi saat screening barang, Welly ditahan sama pihak Bandara Kansai karena kedapatan membawa koper wanita wkwkwk mungkin karena hasil screening nya kelihatan ada "bra"-nya kali ya jadi dianggap koper yang tertukar. Welly ditahan lama banget dan disuruh menghubungi saya untuk memvalidasi kepemilikan koper tersebut, kalau memang koper itu milik temannya Welly hahaha. Duh. Akhirnya saya nyusulin Welly dan mencoba menjelaskan ke petugas imigrasi bahwa koper tersebut adalah benar milik saya. Saya tunjukkan bahwa sayalah yang memiliki akses password koper tersebut hingga pihak Bandara percaya dan Welly berhasil lolos screening. Case closed. Berkelana pun dimulai.

Berhubung selama 3 hari ke depan itinerary kami adalah mengelilingi Osaka dan Kyoto dan baru akan mengaktifkan JR Pass di hari keempat, maka untuk menghemat ongkos transportasi, di Bandara kami langsung beli Kansai Thru Pass. Kansai Thru Pass adalah tiket terusan yang bisa digunakan untuk naik kereta, subway, dan bus di area Kansai yang meliputi Osaka, Kyoto, Nara, dan Kobe. Ada dua pilihan Kansai Thru Pass, 2 day pass seharga 4,000 yen (setara 400,000 rupiah) dan 3 day seharga 5,600 yen pass (setara 560,000 rupiah). Kami memilih menggunakan 3 day pass untuk keliling Osaka dan Kyoto tiga hari ini. Cukup worth to buy untuk teman-teman yang akan menghabiskan waktu agak lama di area Kansai atau berencana jalan-jalan ke banyak destinasi.

Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Dari Bandara, kami bertolak ke Backpacker Hostel Toyo untuk check in dan selonjoran sebentar sebelum jalan-jalan ke komplek Osaka Castle. Naik apa ke hotelnya? Nyasar gak ya? Nggak usah takut kesasar disini. Cukup ikutin aja instruksi Google Maps, tandemin pake modem yang sudah disewa, dan tubuh tinggal mengikuti kemana kaki melangkah. Hehehehe. Suwer deh, anti worry banget kalau jalan-jalan ke Jepang. Trust me.

Saya akan review sedikit mengenai pengalaman menginap kami di Backpacker Hostel Toyo. Hostel ini terletak di daerah Nishinari dengan akses jalur commuter Stasiun Shin Imamiya dan Stasiun Dobutsuen-Mae. Dari kedua stasiun tersebut kami cukup berjalan sejauh 400 meter untuk mengakses Backpacker Hostel. Namun, untuk akses menuju tempat-tempat wisata memang agak jauh, misalnya kalau kami mau ke Osaka Castle, kami harus berganti commuter sebanyak 2 kali dan menghabiskan waktu di perjalanan kurang lebih 20 menit. Tapi tidak masalah buat kami karena harga kamarnya yang sangat miring. Untuk keamanan wilayah hotel ini sendiri, kami baru tahu kalau wilayah Nishinari termasuk wilayah yang nggak aman di Osaka. Semacam lokalisasi gitu lah. Tapi untungnya kami kemana-mana selalu bareng, jadi nggak begitu khawatir dan memusingkan wilayah penginapan kami ini. Untuk fasilitas kamar, kami merasa kamar yang kami dapatkan melebihi ekspektasi. Kamar kami cukup luas (sekitar 3 x 3 meter) dan dilengkapi dengan penghangat ruangan. Fasilitas kamar mandi sendiri juga sangat bersih meskipun kami memilih tipe kamar mandi shared bathroom untuk menghemat akomodasi. Oh iya, hotel ini juga dilengkapi dengan chilled room atau ruang santai layaknya hostel-hostel terkenal, tapi kami tidak sempat menikmatinya karena pulang ke hotel terlalu larut dan sudah kelelahan.



Rute perjalanan kami hari ini adalah Osaka Museum of History - Osaka Castle - Osaka Castle Park - Dotonbori - Hotel. Tapi kami skip ke Osaka Museum of History karena takut ketiduran di dalam museum, hahaha. Enggak sih, sebenarnya karena menghemat energi saja, karena kami sudah tidak sabar ingin melihat Osaka Castle dan mekarnya pohon plum di Osaka Castle Park. Alhamdulillah pas kami ke Osaka Castle, tempatnya lagi nggak begitu ramai, jadi kita bisa foto-foto dengan leluasa dan alay dengan leluasa :)))) tapi sayang aja, sih, menurut saya pribadi ya, Osaka ini tidak sebersih apa yang saya bayangkan. Ketika kami sedang mengitari Osaka Castle, kami menemukan cukup banyak sampah, bekas tissue, dan bekas makanan bertebaran. Tapi positive thinking saja, sih, mungkin petugas kebersihannya belum melakukan inspeksi rutin berkala yang dilakukan di jam-jam tertentu itu kali ya.

Setelah kami menggila bersama - mulai dari foto di antara pohon plum bermekaran, makan es krim Glico di terowongan subway Osaka ((yang berujung pilek selama jalan-jalan, nyesel abis!)), Ke Dotonbori, foto di depan patung Glico, again makan es krim di suhu 5 derajat celcius (ini sih namanya nyari penyakit), pukul 22:00 kami kembali ke Hotel untuk beristirahat dan packing untuk kepindahan ke Kyoto besok.

Sepertinya waktu sehari semalam di Osaka memang nggak cukup ya. Jadi kota ini nggak begitu berkesan buat saya. Tapi ada juga hal yang menarik yang saya perhatikan dari Osaka, yaitu kehidupan anak mudanya yang begitu "hidup" #eaaa. Saya sih pas di Osaka nggak ngerasa kayak di Jepang, tapi ngerasa kayak di Bandung hahaha. Orang-orang jalannya santai, nggak terburu-buru seperti yang saya liat di Internet (yang kayaknya itu di Tokyo deh), jadi kalau ada kesempatan ke Jepang lagi, saya akan eksplor wilayah Kansai lebih pol-polan, terutama Osaka.

Finally, blog tentang hari pertama saya menginjakkan kaki di Osaka kelar juga. Next saya akan bahas tentang Kyoto yang superrr cantik dan superrr ramah. 



Cheers,
Kodil

Saturday, July 29, 2017

Anti-mainstream Japan Trip 2015: Perintilannya

Aloha!
Walau terkesan agak terburu buru dan seperti dikejar deadline, saya akan mencoba mengubek ubek memori saya akan perjalanan dua tahun yang  lalu ini. Ceritanya harus masuk direkam! Setelah kemarin menjelaskan mengenai itinerary Japan Trip saya, tibalah saatnya saya nyicil perintilan yang harus disiapkan sebelum melakukan perjalanan ke Jepang. Ini dia garis besarnya.

Visa
Untuk membuat visa Jepang, seperti yang sudah kita tahu, sangatlah mudah, selama kita menaati aturan yang berlaku. Saat itu saya harus membuat visa karena paspor saya masih paspor lama, belum e-paspor. Karena kalau sudah punya e-paspor teman-teman bisa berangkat ke Jepang tanpa visa, tapi tetap harus lapor ya. Enak kaaan.

Pertama-tama, yang perlu disiapkan adalah foto paspor.
Mau gampang? Kalau kamu tinggal di Jabodetabek, kamu cukup datang ke studio foto Adorama (kalau tidak salah ada di Menteng dan Kemang, saya kurang tahu cabangnya ada dimana lagi), terus bilang “Mas/Mbak, saya mau foto untuk paspor Jepang.” Setelah itu kita akan difoto dengan background sesuai kebutuhan visa Jepang dan dicetak sesuai dengan ukurannya. Saya sendiri waktu itu fotonya di Adorama Kemang, karena memang dekat dari kantor sih, hehehe. setelah itu tunggu sekitar 30 menit dan foto lengkap dengan softcopy di CD pun berhasil kita kantongi.

Selanjutnya, saya mengunjungi website Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia mengenai jenis-jenis visa Jepang (http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html), kemudian klik poin nomor 4 Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri. Jangan lupa untuk periksa wilayah yurisdiksi pembuatan visa sesuai dengan domisili di kartu identitas ya (bisa dicek di http://www.id.emb-japan.go.jp/conind.html).

Udah deh, tinggal baca selengkap-lengkapnya, download dokumennya, dan lengkapi sesuai dengan persyaratannya. Perlu saya akui bahwa Jepang ini sangat procedural dalam menjelaskan perintilannya, tapi juga mudah dimengerti sehingga pembuat visa tidak dibuat kebingungan dengan instruksi yang dijabarkan.

Oh iya, saat membuat visa Jepang kita diminta untuk melampirkan informasi yang berhubungan dengan rencana perjalanan, salah satunya adalah kesiapan kita dari segi finansial saat berangkat ke Jepang berupa bukti rekening koran selama 3 bulan terakhir. Tetapi, persyaratan itu tidak berlaku untuk kamu yang bekerja di BEI, pegawai BUMN, karyawan dari perusahaan yang bekerja sama dengan Jepang, karyawan perusahaan Joint-Venture Jepang-Indonesia, PNS, atlet internasional, serta seniman. Jadi santai ajaaa kalau kamu adalah salah satu dari yang disebut tadi :DD

Wawancara juga hanya ditanya “mau ngapain?” ya sesuai dengan visa yang diajukan dong, mau jalan-jalan ke Jepang, hehehe. jika sudah selesai wawancara dan menyerahkan berkas lengkap, kita hanya diminta menunggu pembuatan visa selama kurang lebih 4 hari kerja dan pihak kedutaan akan menginfokan kapan visa bisa diambil. Selesai.

JR Pass (yang hanya bisa dibeli bila Visa sudah di tangan)
Kalau visa sudah di tangan rasanya lega sekali ya. kita sudah bisa one step ahead deh, persiapannya. Contohnya untuk saya yang akan beli JR Pass. JR Pass memang baru bisa dibeli kalau kita sudah punya visa Jepang – itu dia syarat utamanya :DD saya membeli JR Pass di JALan Tour – tahun 2015 belum banyak travel agent yang menjual JR Pass, tidak seperti sekarang yang bahkan sudah bisa dibeli di sebuah situs belanja online. Standar, sih. Saya pilih tipe JR Pass Ordinary, atau nama lainnya unreserved seat, dimana kita gak akan mendapatkan kursi di gerbong prioritas, jadi kalau Shinkansen-nya ramai, ya kita akan berdiri di gerbong unreserved sampai dengan gerbongnya lowong atau ada tempat duduk kosong. Tenang saja, kita tidak akan selelah itu berdiri di Shinkansen karena keretanya nyaman banget. lebih nyaman dari naik pesawat sekalipun. Tidak terasa seperti di dalam kereta di Indonesia, lho. Serius!

Untuk harga, tiket Ordinary ini dibanderol dengan harga 29,110 Yen atau bila dirupiahkan menjadi 3,2 jutaan. Cukup hemat untuk saya yang akan melancong hingga ke Hokkaido!

Modem WiFi
Reservasi modem Wifi untuk ngenet ini tugasnya teman se-trip saya, Welly. Welly melakukan pemesanan modem Wifi yang diambil di bandara tempat kami landing dan take off nanti, Kansai International Airport, Osaka. Lagi-lagi, tahun 2015 belum ada penyewaan modem di Indonesia seperti yang sekarang ini banyak tersebar, hehehe. jadi Welly melakukan reservasinya di Jepang langsung. Modem yang kami sewa berkapasitas internet 10 GB, dipakai ramai-ramai sesuai dengan nomor handphone yang didaftarkan. Kalau tidak salah, biaya sewanya 500 ribu rupiah, termasuk murah untuk harga modem di tahun 2015 ya. mungkin sekarang ada yang lebih murah?

Packing Baju
Tidak ada long coat keren nan kekinian berbahan wool yang saya bawa ke Jepang, karena perjalanan kami ini judulnya backpacking (tapi bawa koper kabin? Banci, deh. Hahaha). Kalau bisa bawa bajunya yang seringan mungkin deh, mengingat saya hanya bawa koper kabin dan tas ransel berkapasitas 35 liter yang sudah penuh dengan makanan bekal! Di Jepang saya banyak mengandalkan jaket panjang berbahan parasut, syal berbahan wool, dan long john. Perlu diketahui bahwa setiap kota di Jepang bisa saja memiliki cuaca dan iklim yang berbeda-beda. Waktu kesana, suhu Osaka 3 dercel, suhu Kyoto 1 dercel, suhu Tokyo 10 dercel, dan suhu Sapporo -1 dercel serta bersalju padahal di kota lain sudah mulai musim semi :D

Banyak atau tidaknya baju yang kita bawa juga bisa disiasati dengan fasilitas hotel tempat kamu menginap, apakah ada mesin laundry koin? Kalau ada mungkin bisa jadi alternatif menghemat bawaan baju.

Packing Makanan
Nah, berhubung judulnya jalan-jalan hemat, saya tidak mau sok-sok-an mau jajan fancy selama di Jepang. Saya siasati dengan ngebekal makanan-makanan yang tahan lama seperti rendang, abon sapi, dan sambel tempe untuk disana. Saya juga tidak membohongi diri sendiri dengan tidak jajan makanan Jepang sama sekali. Sangat ingin. Tapi keterbatasan budget membuat saya mesti pintar pintar mengatur menu makan. Saya juga prefer masak nasi sendiri, telur sendiri, dan sushi sendiri. Nah ini, kan, bisa dibeli di supermarket Jepang tanpa harus pergi ke restoran mahal. Rasanya? Sama enaknya, sama segarnya, dijamin!

Next: Anti-mainstream Trip to Japan 2015: Day 1 Perjalanan Berangkat ke Osaka, bismillah semoga niat menulis!

Cheers,

Kodil