Saturday, July 29, 2017
Anti-mainstream Japan Trip 2015: Perintilannya
Tuesday, July 25, 2017
Anti-mainstream Japan Trip 2015: Itinerary
Bulan keempat saya cek rute perjalanan dalam kota yang mungkin bisa ter-cover dengan JR line, jadi bisa gratisan; harga tiket masuk daerah wisata yang akan dikunjungi; serta finalisasi budget. Untuk itinerary di atas, kami menghabiskan budget kurang lebih 10 jutaan, sudah termasuk JR PASS. Jadi hitungan kasarnya saya bawa uang cash yen sebesar 7 jutaan ketika berangkat. Bisa hidup antar kota? Bisa. Ini sudah pulang lagi, sudah kewong, dan sudah punya anak. Hehehe.
Sembilan puluh persen perjalanan saya di Jepang persis dengan itinerary ini, berhasil terealisasi. Memang ada beberapa destinasi yang kami batalkan karena, ehm, kami semua kehabisan tenaga. Hahahaha. Tidak bisa dipungkiri memang gobyos banget rasanya jalan-jalan dengan itinerary sepadat di atas. Tapi ya namanya juga di negeri orang, kalau kenapa-kenapa siapa yang mau bantu kita-kita?
Friday, November 18, 2016
Papa Berkata
Kira-kira seperti ini momen sederhana yang sangat menyentuh saat Papa memberikan ucapan selamat kepada saya saat baru lahiran kemarin. Papa memang tidak ada di hari kelahiran Zaid karena sedang ada dinas ke luar kota, jadi baru ketemu saya sekitar 5 hari setelah melahirkan.
Papa: gimana Dil rasanya jadi Ibu?
Dilla: ya gitu deh Pa.. Berat juga yak hahahaa *kebiasaan mengalihkan dgn ketawa, biar gak keliatan galau hahahaa
Papa: ya.. Itulah namanya takdir, jadi seorang Ibu.. Yg memang begini prosesnya..
Kemudian saya masuk kamar ceurik cirambaaaay... Merasa bahwa tugas saya sekarang sangat berat.. Hehehe. Entahlah. Gak tahu kenapa di bagian kata TAKDIR begitu nyata bebannya.
Alhamdulillah habis itu ditenangin sama Mas Aldis "Allah gak akan kasih anak kalau kita belum siap.. So, insyaa Allah ya Nduk.."
Bismillahirrahmaanirrahim.
Cheers,
Dilla, Aldis, Zaid
Welcome to the world, Baby Zaid
Alhamdulillah, telah lahir pelengkap keluarga kami Zaid Affan Ramadhan pada tanggal 24 October 2014 pukul 20.13.. Mohon doanya semoga Zaid kelak tumbuh menjadi anak yang soleh, sehat wal afiat, serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Aamiin yarobbal alaamiin.
Zaid lahir melalui proses sectio caesaria yang sangat tenang dan disadari oleh kedua orang tuanya. Insyaa Allah tidak ada trauma birth di antara kami bertiga. :)
So, selamat berlahir untuk kita bertiga, ya. Aku menjadi seorang Ibu, Mas Aldis menjadi seorang Bapak, dan Zaid hadir di antara kami..
Selamat datang di dunia parenting ya Mas Aldis.. Bismillah.. Jadikan aku sosok madrasah pertama yang baik untuk anakku, ya Allah. Jadikan Mas Aldis imam yang mampu menuntun kami menuju surgaMu, ya Allah. Aamiin.
Cheers,
Dilla, Aldis, Zaid
Sunday, September 4, 2016
Buku Gentle Birth Balance oleh Yesie Aprilia
Belakangan ini, banyak artikel di Internet yang menggadang-gadangkan Gentle Birth dan Hypnobirthing sebagai metode melahirkan yang sedang “in”. bagaimana tidak, sejumlah artis ibu kota seperti beramai-ramai menggunakan metode ini untuk menyambut tamu agung – anak – lahir ke dunia, seperti yang ditunjukkan oleh akun Instagramnya, di antaranya Ayudia Bing Slamet, Dewi Dee Lestari, dan lain sebagainya. Namun, apakah iya bahwa Gentle Birth dan Hypnobirth merupakan metode “in” yang modern? Nampaknya kita perlu telaah lebih dalam lagi ya filosofi ini kepada ahlinya supaya tidak salah kaprah dan salah pengertian akan ke”in”an nya ((halah)).
Mutar muter nyari buku, akhirnya perhatian saya tertuju pada buku Gentle Birth Balance karya Kak Yesie Aprilia dan Hypnobirthing karya Ibu Lanny Kuswandi.
![]() |
| sampul bukunya. foto diambil dari www.bukalapak.com |
Apa sih pengertian Gentle Birth?
Gentle Birth adalah proses persalinan yang menuntut kita untuk kembali merunduk ke alam, memercayai kekuatan tubuh yang memang didesain untuk melakukan "tugasnya", yaitu melahirkan keturunan (Gentle Birth Balance, halaman xx).
Menurut www.bidankita.com, website yang juga diasuh oleh Kak Yesie, Gentle Birth adalah metode persalinan yang tenang, penuh kelembutan dan memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh seorang manusia. Penolong dan pendamping harus membantu dengan tenang dan suara yang lembut, sehingga pada saat bayi lahir, suasana di sekelilingnya tenang, hening, dan penuh kedamaian. Proses persalinan yang tenang, lembut, santun dan minum trauma ini bukanlah sebuah Standard Operating Procedure (SOP) atau seperangkat aturan yang harus diikuti. Sebaliknya, itu adalah sebuah pendekatan dalam proses kelahiran alami yang menggabungkan nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh wanita itu sendiri.
Bagi seorang ibu yang hendak melahirkan secara Gentle Birth, dia perlu merasa benar-benar aman, tidak hanya secara fisik, tetapi secara emosional dan spiritual. Dukungan dari orang terdekat dan orang yang mencintainya sangatlah penting. Dia membutuhkan cinta dari semua orang, dan kesabaran dan pengetahuan bahwa mereka memiliki iman dan keyakinan bahwa tubuhnya mempunyai pengetahuan yang sempurna untuk melahirkan bayinya (www.bidankita.com).
Apa yang harus dipersiapkan calon ibu untuk mencapai sebuah pengalaman Gentle Birth?
Gentle Birth membutuhkan persiapan sejak masa kehamilan. Baik persiapan fisik maupun mental calon ibu. Persiapan fisik meliputi latihan pernapasan, olahraga ringan, pijat, dan konsumsi makanan sehat. Mental ibu pun perlu disiapkan dengan rutin melakukan relaksasi hypno-birthing, meditasi, afirmasi positif, dan menjaga ketenangan jiwanya. Persiapan mental ibu menjadi hal penting yang akan memengaruhi kesuksesan Gentle Birth ini (www.bidankita.com). Saking pentingnya persiapan ini, jargon sakti milik Gentle Birth adalah KNOWLEDGE IS POWER. Yes, pengetahuan yang luas adalah kunci mempersiapkan keberhasilan Gentle Birth.
Kunci agar sukses Gentle Birth menurut buku Gentle Birth Balance:
High Knowledge
Mindfulness & Awareness
Healing Birth Trauma
Breathe
Relax Mind
Mind, baby and body balance
Mobility and gravity during labor
Gentle Birth Provider & Support
Nah, saya jadi mikir. Bila melahirkan secara pervaginam adalah proses yang alami, maka seharusnya proses alami tersebut bisa kita usahakan, dong, bukan proses yang instan "oke, pervaginam!" atau "oke, sectio caesarian!". Memang sih banyak "katanya katanya" dari teman-teman dan orang tua yang dapat membantu upaya agar melahirkan pervaginam, seperti contohnya "ngepel jongkok" dan "senam hamil latihan nafas huh hah huh hah", namun ternyata banyak sekali usaha fisik maupun mental lainnya yang harus kita lakukan, di luar inputan dari dokter kandungan yang kita pilih, untuk menuju kehamilan dan persalinan pervaginam.
Saya juga sadar, sih, zaman dulu kalau lahiran nggak perlu ke dokter. Cukup bidan atau dukun beranak. Bahkan ada yang lahirannya di tepi sawah sehabis mencangkul tapi masih sehat wal afiat setelah melahirkan, tanpa bius atau obat tambahan apapun, besoknya mungkin sudah kuat mencangkul lagi :D
Fasilitator Kesehatan dan Tenaga Kesehatan yang pro-normal saja tidak cukup untuk mendukung Gentle Birth.
Ngepel jongkok dan senam hamil huh hah huh hah apalagi, nggak cukup memberdayakan calon ibu yang mau lahiran pervaginam dengan gentle.
Orang ngomong "ih lahiran mah udah pasti sakit keles!" itu tidak selamanya benar, setidaknya bila kita sudah tau ilmunya ya.. Kalau nggak tahu ilmunya ya akan merasakan sakit luar biasa. FYI, ternyata ilmunya juga ilmu kedokteran lho, bukan ilmu abal-abal apalagi mejik. :)
Jadi, apakah tepat bahwa Gentle Birth adalah metode melahirkan "in" yang modern - seperti yang dikatakan pada artikel-artikel di internet?
KODIL
Saturday, September 3, 2016
Dilla Went to Malay – Thai 2014: Last Day: “Elep” a la Bangkok
*catatan: kalau saya bilang Elep atau ELF itu berarti mobil travel ya, kalau di Bandung suka disebut ELF sih :))))
![]() |
| Tampilan ELF di Bangkok (tapi ini bukan ELF yang saya tumpangi, lho) |
Sumber foto: hwww.magictravelblog.com
Dilla Went to Malay – Thai 2014: Ancient Thailand called Ayutthaya, Day 3
Kami dan para penumpang yang notabene rata-rata turis mancanegara turun aja gitu dengan langkah gontai setelah itu nangkring di pinggir rel kereta api sambil panas-panasan, duh. Untungnya, beberapa menit kemudian, nestapa kami di pinggir kereta api terobati dengan kedatangan kereta pengganti yang, kayaknya sih, kelasnya naik dari yang awalnya kami tumpangi. Punya feeling kalau kami memang nggak punya pilihan, kami naiki kereta pengganti itu sambil mengucap syukur Alhamdulillah, interior dalam keretanya lebih manusiawi dari yang pertama kami tumpangi.
Daaan, inilah hasil jepretan selfie kami selama muter-muter di Ayutthaya Historical Park! Maaf ya minim foto, karena sudah diamankan di lokasi lain. :(
![]() |
| Di depan the famous Buddha, Wat Mahathat |
![]() |
| Di Wat Mahathat versi Selfie! |
![]() |
| Cuaca dan puunnya pada bagus-bagus, sih. Beginilah kelakuan gadis-gadis dua puluh lima tahun liat yang bisa #nofilterphoto |
![]() |
| Agaiiin. |
Alasan lain yang bikin kami memutuskan gak berlama-lama di Ayutthaya adalah… kami mabok candi dan kuil! Hahaha. Iya, bayangin aja kiri kanannya candi lagi, kuil lagi, begitu saja terus. Jadi kalau menurut kami sightseeing sambil sepedaan juga udah puas banget kok, kecuali teman-teman ada yang ingin hunting foto sepuasnya ya. Jadiii silahkan diperhitungkan waktu jalan-jalannya yang efektif dan efisien seperti apa dan tentunya sesuai dengan tujuan masing-masing.
![]() |
| See you when I see you, Ayutthaya! |
Menurut pengelihatan kami, MBK itu bentuknya seperti Mall yang dikombinasikan dengan ITC kalau di Jakarta. Karena di 4 lantai pertama isinya adalah gerai-gerai outlet dan di lantai 5 isinya pusat oleh-oleh Thailand. Lagi-lagi karena tenaga yang sudah low battery dan budget yang minim, kami langsung cabut ke lantai 5 yang tampangnya beneran deh, ITC banget! di lantai 5 ini kita bisa belanja sambil nawar lho, jadi pas banget kalau kesini jangan lupa keluarkan jurus tawar-menawar saat belanja di Mangga Dua atau Thamrin City, ya. mbak-mbak jualannya juga jago bahasa Indonesia, saking seringnya menghadapi customer orang Indonesia. Sampai-sampai ada juga orang Indonesia yang buka lapak disini. Lol :))))
-
Halo Assalamualaikum! Seperti apa yang saya bilang di postingan sebelumnya. Kali ini saya akan ngebahas vendor yang saya pilih untuk pro...
-
Halo Assalamualaikum! Eh, saya masih punya hutang menulis hari kedua dan ketiga Malay – Thai Trip 2014 ya? Maafkeun, karena satu dan ...
-
" tampilan blog mempengaruhi semangat atau engganya kita dalam menulis. if keramean then males bukanya, apalagi bacanya "...







